Sekilas tentang profile kota Bagansiapiapi dan sekitarnya.
Kenali BON lebih dekat
Butuh bantuan ?

 

  • Group BON @ facebook
  • Gallery
  • kongkow
  • event
    
 

FORUM : Sesama BON-er BON Lounge

 Topic umum : UnCan LaoShi - sebuah dedikasi .
    Share


Moderator : MonMonMeery Ciangdratina

Topic Created : 27.Jun.2009 08:31    View : 24349    



Anton Hung
[VM]
Jakarta

Total post : 1906

siapa yang tidak kenal LaoShi (Guru) Un Can ?
dulu saya sering mendengar nama besar dia dari teman2 yang membicarakan bagaimana dia mengajar, disiplinnya, bantuan biaya bagi yang mau les mandarin dll, namun saya belum pernah mengetahui yang mana sih LaoShi Un-Can tsb ?
hingga sampai GoCapLak 2009 kemaren akhirnya berhasil ketemu beliau setelah beberapa kali trip ke bagan n niat bertemu beliau selalu tidak kesampaian.

siapa aja yg pernah diajar beliau, kesan anda dan apa saja yang anda ingin ucapkan pada beliau silahkan sampaikan di sini.





Perjalanan pengabdian hidup Sang Guru, Un Can Lao Shi dalam pengembangan edukasi di Bagansiapiapi.

Di masa muda, pria kelahiran tahun 1938 ini bertekad mewujudkan cita-cita-nya sebagai seorang pendidik. Kecintaannya akan sastra Tionghoa mengukuhkan komitmennya untuk mengajar sampai hari tua dengan harapan agar generasi muda bisa memahami dan mengerti sastra Tionghoa sehingga bangga dengan eksistensi mereka.

Memulai karier dari tahun 1955, beliau bergabung dalam tim pengajar sekolah Tiong Hua Kong Ou. Dua tahun beliau mengajar di kelas sore dan pada tahun ketiga mulai mengajar di kelas malam yang waktu itu disebut Ya O Po. "Waktu itu gaji saya sebesar Rp.525,- namun saya masih bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung" katanya.

Tahun 1958, beliau pindah ke sekolah Methodist dan sempat mengajar selama hampir 4 tahun.

Perjalanan kariernya dilanjutkan dengan mengajar di kampung pesisir di Pulau Halang, beberapa jam perjalanan dari Bagansiapiapi. Selama satu setengah tahun beliau mengabdi di daerah Tua He Zam yang saat ini lebih dikenal dengan nama Pa Ao (Pulau Halang belakang).
Dua tahun berikutnya beliau abdikan untuk pengembangan pendidikan di daerah Shi Ngo Zam yang kini juga menjadi bagian dari Pa Ao.

Selanjutnya beliau mengikuti pekerjaan buruh di beberapa tempat, seperti : ikut di Pai Tia dan melaut (thua bang). Masa-masa ini adalah saat awal bahasa Mandarin mulai dilarang.

Tahun 1977, beliau memutuskan untuk kembali meneruskan cita-citanya menjadi pendidik dengan membuka kelas private. Ketika zaman orde baru, kekangan dari pemerintah akan pengenalan sastra begitu terasa, walau harus dengan sembunyi-sembunyi namun beliau tetap mengajar. Tujuannya hanya satu, mewariskan identitas yang perlu dilestarikan.

Bukan rahasia umum lagi bahwa beliau sering masuk penjara karena misi pendidikannya. "Uang saya selalu habis di setiap kali masuk penjara, semua hasil simpanan selalu dijadikan uang jaminan atau mengurus proses keluarnya saya dari penjara." Namun tantangan-tantangan ini tidak menyurutkan semangat mengajar beliau. Dalam perjalanannya, beliau tetap teguh dengan keyakinannya walaupun delapan kali dijebloskan ke penjara selama masa orde baru.

"Untunglah saat ini pemerintah sudah mengijinkan keleluasaan dalam mempelajari sastra Tionghoa, sehingga semua murid bisa belajar dengan tenang" tutur beliau.

Ketika ditanya “kenapa Lao Shi (guru) Un Can memilih jalan hidup seperti ini? Beliau dengan yakin menjawab, "Ini adalah tanggung jawab saya untuk memperkenalkan sastra Tionghoa kepada generasi penerus."
Sehingga tidak heran kalau kita sering mendengar kisah dari para mantan muridnya yang memuji kebaikan sang guru. "Un Can Lao Shi mengajar dengan displin, bila ada murid yang tidak serius beliau tidak akan tanggung-tanggung mengusirnya namun sebaliknya bila ada yang suka belajar beliau akan menampungnya walau tanpa dibayar sekalipun."

Sungguh sebuah pengabdian yang luar biasa. Kini, di usianya yang ke-72, beliau masih mengangkat buku dan meneruskan cita-citanya. Saat kami menemui beliau, penglihatannya sudah semakin memburuk tetapi hari itu, beliau masih akan mengajar hingga jam 10 malam.

Kami bertanya, "Guru, apa harapan Anda ?" Jawabannya sederhana tetapi membuat kami sangat terharu, "Semoga semua orang mengerti sastra Tionghoa dan bisa dijadikan bekal di masa depan." Sebagai seorang guru, beliau ingin mengantarkan murid-muridnya agar bisa berkompetisi dan meraih kesuksesan mereka.


Selain itu, apakah ada impian lain yang belum guru capai?
Dengan agak lesu beliau menjawab, "Impian saya kini tinggal mimpi, di setiap kali saya terbangun saya mendapatkan diri saya yang sudah tua ini tidak lagi mampu mencapai impian saya. Langit pun tidak menjawab, bumi pun tidak bergetar di setiap kali saya memohon."

Sangat menyayat hati melihat mimik muka sang guru apalagi melihat mata tuanya yang tidak lagi berfungsi dengan baik ini mengeluarkan air mata. Kami tersentuh tetapi tidak tahu harus berbuat apa, terlebih ketika mendengar, "Saya yang sudah tua ini kini melewati hari tua saya dengan makan tak tenang tidur tak lelap."

Penasaran dengan impian yang membuatnya begitu menderita, kami memberanikan diri bertanya, seperti apakah impiannya itu?
Ternyata beliau tidak berharap banyak, sebuah harapan yang sangat umum, sangat wajar, sangat mendesak. Beliau membutuhkan sebuah tempat tinggal untuk melewati hari tuanya.
Kini tempat yang ditinggalinya adalah sebuah rumah kontrakan di jalan Sedar, Bagansiapiapi.
Sementara rumah yang ingin dibeli seharga Rp170 juta, yang oleh Guru Uncan sendiri menginfokan masih butuh sekitar Rp70 juta. Penangkaran sarang walet dan pertumbuhan ekonomi di Rokan Hilir telah melambungkan harga rumah di Bagansiapiapi.

Kami telah mendapat ijin dari beliau untuk meneruskan kisah hidupnya untuk dibagikan ke semua teman-teman sekampung.
Setelah kami berembuk, kami memutuskan akan mencoba menghubungi teman-teman yang dulu mungkin pernah mengikuti kelas beliau ataupun ada yang seperti kami yang walau tidak pernah menjadi muridnya namun sangat menghargai dedikasi dan jasa beliau.

Bila teman-teman tertarik untuk ikut bersama kami menyisihkan sedikit dana dalam memberikan sebuah apresiasi atas dedikasinya dalam pengembangan pendidikan khususnya sastra Tionghoa (Mandarin), maka jangan sungkan untuk menghubungi kami di : 021-332-22426 (332-BAGAN).

Atau dana bisa ditransfer ke BCA rek no : 48 111 666 39 a/n Willington Aripin.
Rekening ini adalah rekening bersama yg dikelola oleh BON-Bagansiapiapi Online Network.

Untuk memudahkan kami melacak penyaluran dana karena rekening ini juga digunakan untuk misi sosial BON yang lain, mohon agar menambahkan Rp 500, misalnya Rp. 20.500,- atau Rp. 1.000.500,- pada saat Anda mentransfer dana atau tambahkan kata "Untuk Guru Un Can" di kolom pesan saat Anda melakukan transfer via ATM, komputer atau mobile.

Mohon abaikan email/pesan ini bila sudah lewat dari tanggal 20 Juli 2009.

silahkan klik gambar di bawah ini utk memperbesar gambar bukti setoran.


Halaman :  [1]  2  3  4  5 


# 1 - Reply : 27.Jun.2009 09:48



Santana Perwira
[VM]
Jakarta

Total post : 641

mungkin ini bisa membangkitkan kenangan anda,

tempat les

tempat les

tempat les bagansiapiapi

---

BELAJAR MANDARIN SELAGI ADA WAKTU DAN KESEMPATAN,
merupakan bekal yang berguna.



# 2 - Reply : 27.Jun.2009 10:45



kho hong yau
[VM]
Jakarta

Total post : 395

yup..neh ampe mao belajar aja gak ada waktu.....kalo gak pengen belajar nih..

# 3 - Reply : 27.Jun.2009 14:30



Agnes C
[VM]
Surabaya

Total post : 346


Bro Admin , ada kesempatan undang beliau buka kelas di Jakarta saja.
belum sempat berguru dengan beliau..pdhal dulu di Bagan semua guru2 mandarin sudah saya hampir pernah datangi, teringat kecil kalo ke tempat les guru mandarin "NG-SAN" hingga diuber2 ama polisi ,terpaksa diliburkan trs dan cari guru lain , seru2 deh bukunya simpan di perut lagi...zaman kami les harus ng ng yap yap...sangat capek deh.
mengenai yg guru UNCAN koq bisa ketinggalan ya...jd guru saya ?? alamat jelasnya ada ?

yang sangat membuat saya terharu melihat tulisan dikelasnya "能的傳人" Talenta slogan seorang lao-shi yg punya dedekasi sgt tinggi...ilmu harus diturunkan...dan beliau benar2 telah membuktikan...benar2 seorang pahlawan tanpa jasa... Salute!

# 4 - Reply : 27.Jun.2009 16:17



Ho Huat/Sukmono W
[VM]
Samarinda

Total post : 6

dulu pernah les dgn LaoShi Un-Can, dulu kalo mau les harus sembunyi2, dan les-nya di loteng rahasia. bagi yang masih berhubungan dgn LaoShi Un-Can, mohon bantuannya untuk sampai salam. semoga LaoShi Un-Can sehat2.

# 5 - Reply : 28.Jun.2009 13:16



rudydarwin
[VM]
Jakarta

Total post : 1105

Ga pernah les di tempat beliau tapi cerita mengenai beliau yg saya dgr dari anak muridnya termasuk sepupu saya, emang luar biasa.
Bbrp teman yg saya kenal dr keluarga kurang mampu pun ikut kursus di sana tanpa harus membayar uang sekolah. Dedikasi dan wujud pahlawan tanpa tanda jasa yang luar biasa.

Saat ini Laoshi mengontrak sebuah rumah untuk dijadikan tempat tinggal di Bagan. Dengan serba keterbatasan, beliau hingga hari ini masih terus mengajar. Terkenal keras tapi dedikasinya menghasilkan pujian dimana-mana.

# 6 - Reply : 29.Jun.2009 13:32



Carolina Cai
[VM]
Jakarta

Total post : 155

teringat lg dl pernah diajarin ma Lao shi....zhi you yi ju hua ke yi xing rong na jiu shi HEBAT........

# 7 - Reply : 01.Jul.2009 21:33



Boby KevinHong
[VM]
Bagansiapiapi

Total post : 118

lao shi ni hao...........

# 8 - Reply : 01.Jul.2009 23:23



Santana Perwira
[VM]
Jakarta

Total post : 641

###

JANGAN BERTANYA, APA YANG GURU UN-CAN PERNAH BERIKAN PADAMU
TAPI TANYAKAN sekarang,
APA YANG BISA KITA BERIKAN SEBAGAI TANDA BAKTI UNTUK GURU UN-CAN

---


# 9 - Reply : 02.Jul.2009 12:04



Hongyuchen
 
Surabaya

Total post : 19

Kalo kita ada uang coin lebih-setiap hari kita kumpulkan coin2 itu...pasti terkumpul byk! gimana kita memulai kumpulkan... ! pengalaman tiap pulang naik pesawat pasti sempatkan rogoh sisa2 coin lalu masukan diamplop tsb ,setiap pesawat IntL ada tersedia amplop2 untuk uang recehan khusus kantong tersebut ada tertulis dana sosial akan di salurkan The United Nations Children's Fund or UNICEF.

jika sebuah kendi tersedia , hati anda akan tergerak uang kecil yang dikumpul dari byk org...uang coin2 terkumpul akan sgt bermanfaat bagi mereka yg sgt memerlukannya.

salam sejehtera.

# 10 - Reply : 05.Jul.2009 22:57



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

Perjalanan pengabdian hidup Sang Guru, Un Can Lao Shi dalam pengembangan edukasi di Bagansiapiapi.

Di masa muda, pria kelahiran tahun 1938 ini bertekad mewujudkan cita-cita-nya sebagai seorang pendidik. Kecintaannya akan sastra Tionghoa mengukuhkan komitmennya untuk mengajar sampai hari tua dengan harapan agar generasi muda bisa memahami dan mengerti sastra Tionghoa sehingga bangga dengan eksistensi mereka.

Memulai karier dari tahun 1955, beliau bergabung dalam tim pengajar sekolah Tiong Hua Kong Ou. Dua tahun beliau mengajar di kelas sore dan pada tahun ketiga mulai mengajar di kelas malam yang waktu itu disebut Ya O Po. "Waktu itu gaji saya sebesar Rp.525,- namun saya masih bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung” katanya.

Tahun 1958, beliau pindah ke sekolah Methodist dan sempat mengajar selama hampir 4 tahun.

Perjalanan kariernya dilanjutkan dengan mengajar di kampung pesisir di Pulau Halang, beberapa jam perjalanan dari Bagansiapiapi. Selama satu setengah tahun beliau mengabdi di daerah Tua He Zam yang saat ini lebih dikenal dengan nama Pa Ao (Pulau Halang belakang).
Dua tahun berikutnya beliau abdikan untuk pengembangan pendidikan di daerah Shi Ngo Zam yang kini juga menjadi bagian dari Pa Ao.

Selanjutnya beliau mengikuti pekerjaan buruh di beberapa tempat, seperti : ikut di Pai Tia dan melaut (thua bang). Masa-masa ini adalah saat awal bahasa Mandarin mulai dilarang.

Tahun 1977, beliau memutuskan untuk kembali meneruskan cita-citanya menjadi pendidik dengan membuka kelas private. Ketika zaman orde baru, kekangan dari pemerintah akan pengenalan sastra begitu terasa, walau harus dengan sembunyi-sembunyi namun beliau tetap mengajar. Tujuannya hanya satu, mewariskan identitas yang perlu dilestarikan.

Bukan rahasia umum lagi bahwa beliau sering masuk penjara karena misi pendidikannya. “Uang saya selalu habis di setiap kali masuk penjara, semua hasil simpanan selalu dijadikan uang jaminan atau mengurus proses keluarnya saya dari penjara.” Namun tantangan-tantangan ini tidak menyurutkan semangat mengajar beliau. Dalam perjalanannya, beliau tetap teguh dengan keyakinannya walaupun delapan kali dijebloskan ke penjara selama masa orde baru.

“Untunglah saat ini pemerintah sudah mengijinkan keleluasaan dalam mempelajari sastra Tionghoa, sehingga semua murid bisa belajar dengan tenang” tutur beliau.

Ketika ditanya “kenapa Lao Shi (guru) Un Can memilih jalan hidup seperti ini? Beliau dengan yakin menjawab, “Ini adalah tanggung jawab saya untuk memperkenalkan sastra Tionghoa kepada generasi penerus.”
Sehingga tidak heran kalau kita sering mendengar kisah dari para mantan muridnya yang memuji kebaikan sang guru. “Un Can Lao Shi mengajar dengan displin, bila ada murid yang tidak serius beliau tidak akan tanggung-tanggung mengusirnya namun sebaliknya bila ada yang suka belajar beliau akan menampungnya walau tanpa dibayar sekalipun.”

Sungguh sebuah pengabdian yang luar biasa. Kini, di usianya yang ke-72, beliau masih mengangkat buku dan meneruskan cita-citanya. Saat kami menemui beliau, penglihatannya sudah semakin memburuk tetapi hari itu, beliau masih akan mengajar hingga jam 10 malam.

Kami bertanya, “Guru, apa harapan Anda ?” Jawabannya sederhana tetapi membuat kami sangat terharu, “Semoga semua orang mengerti sastra Tionghoa dan bisa dijadikan bekal di masa depan.” Sebagai seorang guru, beliau ingin mengantarkan murid-muridnya agar bisa berkompetisi dan meraih kesuksesan mereka.

“Selain itu, apakah ada impian lain yang belum guru capai?“
Dengan agak lesu beliau menjawab, “Impian saya kini tinggal mimpi, di setiap kali saya terbangun saya mendapatkan diri saya yang sudah tua ini tidak lagi mampu mencapai impian saya. Langit pun tidak menjawab, bumi pun tidak bergetar di setiap kali saya memohon.”

Sangat menyayat hati melihat mimik muka sang guru apalagi melihat mata tuanya yang tidak lagi berfungsi dengan baik ini mengeluarkan air mata. Kami tersentuh tetapi tidak tahu harus berbuat apa, terlebih ketika mendengar, “Saya yang sudah tua ini kini melewati hari tua saya dengan makan tak tenang tidur tak lelap.”

Penasaran dengan impian yang membuatnya begitu menderita, kami memberanikan diri bertanya, seperti apakah impiannya itu?
Ternyata beliau tidak berharap banyak, sebuah harapan yang sangat umum, sangat wajar, sangat mendesak. Beliau membutuhkan sebuah tempat tinggal untuk melewati hari tuanya.
Kini tempat yang ditinggalinya adalah sebuah rumah kontrakan di jalan Sedar, Bagansiapiapi.
Sementara rumah yang ingin dibeli seharga Rp170 juta, yang oleh Guru Uncan sendiri menginfokan masih butuh sekitar Rp70 juta. Penangkaran sarang walet dan pertumbuhan ekonomi di Rokan Hilir telah melambungkan harga rumah di Bagansiapiapi.

Kami telah mendapat ijin dari beliau untuk meneruskan kisah hidupnya untuk dibagikan ke semua teman-teman sekampung.
Setelah kami berembuk, kami memutuskan akan mencoba menghubungi teman-teman yang dulu mungkin pernah mengikuti kelas beliau ataupun ada yang seperti kami yang walau tidak pernah menjadi muridnya namun sangat menghargai dedikasi dan jasa beliau.

Bila teman-teman tertarik untuk ikut bersama kami menyisihkan sedikit dana dalam memberikan sebuah apresiasi atas dedikasinya dalam pengembangan pendidikan khususnya sastra Tionghoa (Mandarin), maka jangan sungkan untuk menghubungi kami di : 021-332-22426 (332 –BAGAN).

Atau dana bisa ditransfer ke BCA rek no : 48 111 666 39 a/n Willington Aripin.
Rekening ini adalah rekening bersama yg dikelola oleh BON – Bagansiapiapi Online Network.

Untuk memudahkan kami melacak penyaluran dana karena rekening ini juga digunakan untuk misi sosial BON yang lain, mohon agar menambahkan Rp 500, misalnya Rp. 20.500,- atau Rp. 1.000.500,- pada saat Anda mentransfer dana atau tambahkan kata “Untuk Guru Un Can” di kolom pesan saat Anda melakukan transfer via ATM, komputer atau mobile.

Mohon abaikan email/pesan ini bila sudah lewat dari tanggal 20 Juli 2009.

Salam,
BON Admin



Halaman :  [1]  2  3  4  5 

 



BON is providing basic human rights such as freedom of speech. By using BON, you agree to the following conditions :
 - Use this site at your own risk and it is not the risk of the owner or the webhost
 - If you do not agree to these terms, please do not use this service or you will face consequences
USING THIS SITE INDICATES THAT YOU HAVE READ AND ACCEPT OUR TERMS.
IF YOU DO NOT ACCEPT THESE TERMS, YOU ARE NOT AUTHORIZED TO USE THIS SITE