Sekilas tentang profile kota Bagansiapiapi dan sekitarnya.
Kenali BON lebih dekat
Butuh bantuan ?

 

  • Group BON @ facebook
  • Gallery
  • kongkow
  • event
    
 

FORUM : Diskusi Umum Chinese Culture

 Topic umum : dewa-dewi
    Share


Moderator : MonMon,

Topic Created : 31.Jul.2009 22:38    View : 68186    



Anton Hung
[VM]
Jakarta

Total post : 1902

seberapa banyak sih Dewa-Dewi menurut pemeluk Kong Hu Cu
di buddhist maupun india juga banyak Dewa-dewi nya

sharing donk, fotonya dan kalo bisa sedikit ritual dan silsilah


Halaman :  1  2  3  4  [5]  6 


# 41 - Reply : 07.Aug.2009 09:26



TEK LIE
 
Jakarta

Total post : 77

quote komentar : rudydarwin - Tgl : 06.Aug.2009 22:43
quote komentar : TEK LIE - Tgl : 04.Aug.2009 05:01
Da Bo Gong / Toa Pek Kong

Nama Dewata ini hanya dikenal di wilayah Malaya dan Indonesia. Ia merupakan dewa air yang dipuja sejak zaman dinasti Song oleh para pelaut demi kemanana pelayaran.

Namun, istilah Toa Pe Kong di Indonesia sebenarnya merujuk pada SEMUA dewa-dewi Tao.
Last edited by kris; 05-20-2006 at 08:58




Agak mencengangkan..
Pertama, kok bisa dikaitkan ke Dewa Air. Mungkin karena itu makanya disembah di daerah yg dekat laut kali ya... Dulu liat di Melaka juga banyak yg menyembah Toa Pe Kong.

Trus kalimat kedua, merujuk ke semua dewa-dewi Tao, maksudnya apa ya? Keindahan dari Dewa-dewi ini karena gabungan dari Tri Darma menjadi satu keyakinan unik di kalangan masyarakat Tionghoa itu sendiri. Suatu kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Malah beberapa nama Dewa yang disebutkan di sini belum pernah saya dengar.

Namun, istilah Toa Pe Kong di Indonesia sebenarnya merujuk pada SEMUA dewa-dewi Tao. Jadi bisa dikatakan kalo Toa Pe Kong itu artinya "para dewata Tao". Ada yang merujuk Toa Pe Kong sebagai Du Ti Gong, ada yang merujuk pada dewata lain, dsb.

Dewa dewi ajaran Taoisme :
1.Ba Xian (Delapan Dewa) mereka adalah : Mereka adalah:
Zhongli Quan [Chung-li Chuan]
Zhang Guolao [Chang Kuo-lao]
Lu Dongbin [Lu Tung-pin]
Li Tieguai [Li T'ieh-kuai]
Cao Guojiu [Ts'ao Kuo-chiu]
Lan Caihe [Lan Tsai-ho]
Han Xiangzi [Han Hsiang-tzu]
He Xiangu [Ho Hsien-ku]

2.Tian Shang Sheng Mu
3.Dewi Yao Ce Chin Mu
4.Chen Fu Zhen Ren (Tan Hu Cin Jin)
5.Da Bo Gong / Toa Pek Kong
6.Chen De Xiu / Tan Tik Siu
7.Yi Yong Gong / Gi Yong Kong
8.Ze Hai Zhen Ren / Tey Hai Cin Jin

# 42 - Reply : 07.Aug.2009 09:38



TEK LIE
 
Jakarta

Total post : 77

Dikisahkan, bahwa Dewa dapur(atau dlm Kanghucu disebut Malaikat Dapur), merupakan seseorng yng bernama Thio Teng Hok. Thio teng hok adalah penjudi yang tak pernah mujur (selalu kalah main), hingga seluruh hartanya habis. Selain penjudi, Ia juga seorang pemabuk dan pemalas. Kemudian Ia membujuk isterinya utk menjual diri pada seorang hartawan utk dijadikan gundik/selir, karena mereka sudah tak punya apa-apa lagi. Isterinya pun akhirnya menyetujui hal itu.Uang hasil penjualan isterinya itu pun digunakan pula sbg taruhan di meja judi. Beberapa waktu sekali, ia menghampiri mantan isterinya dirumah sang hartawan, saat sang hartawan sedang tak ada di tempat.
Saat bahan makanan dan uang habis, ia pun menghampiri mantan isterinya. Suatu ketika Ia kembali lagi ke rumah hartawan itu, dan Isterinya memberikannya sejumlah Kue Ang Kui Ko, yang didalamnya disisipkan sejumlah uang emas. Isterinya berharap dengan memberikan uang emas pada Teng Hok, ia akan hidap layak. Namun malahan Teng Hok menjual Kue-kue itu, dan hasil penjualannya dijadikan Taruhan di meja judi. Setelah uang hasil penjualan kue tsb sdh habis utk berjudi, ia kembali lagi ke rumah hartawan itu. Dengan marah, mantan isterinya mengatakan bahwa dalam kue-kue yang tak seberapa harganya itu terselip sejumlah uang emas yang sangat mahal nilainya.
Saat itu, insaflah Thio Teng Hok atas segala kesalahannya. Ia pun takut dan tak tega bila mantan isterinya yang baik dan bijak itu dituduh berzinah. Sekonyong-konyong, Teng Hok Membenturkan kepalanya ke Tembok dapur di rumah sang Hartawan. Otak dan isi kepala Teng Hok hancur, dan berceceran ke mana-mana. Untung pada saat itu tak ada orang yang melihatnya. Kemudian Mantan isterinya menguburkan Jenazah Teng Hok Ddi dapur sang hartawan. selain itu, iapun membuatkan papan nama (papan abu) untuk Almarhum mantan suaminya dengan tulisan "Teng Hok Sien Ci". Setiap hari-hari Uposata (Ce it - Cap Go) dan menjelang Tahun Baru Imlek, ia menyembahyangi Almarhum Mantan Suaminya.
Para tetangga yang heran mengapa selir sang hartawan rajin bersembahyang, menanyakan siapa yang ia semabhyangi. Dengan cerdik, ia mengatakan bahwa ia menyembahyangi Dewa Dapur. Para tetangga yang puas mendengar jawaban selir sang hartawan hanya berkata " Pantas, Orang itu semakin kaya, ternyata ia memuja Dewa Dapur.

Dewa Dapur :

Image Hosted by ImageShack.us

erita diatas hanya merupakan Legenda saja. Saudara-saudari boleh percaya, boleh tidak.
Dewa Dapur biasanya hanya ditampilkan dengan papan nama yang bertuliskan "Teng Hok Sien Ci" atau "Teng Hok Sing Kun". Sngat jarang menemukan Altar Dewa dapur dengan Pratima(Arca/Patung) maupun Gambar. Saya hanya melihatnya di 3 tempat, yaitu:
- Xin De Miao(Sin tek Bio) di Pasar Baru, Jakarta pusat (Berupa Gambar)
- Xian Thian Shang DI Miao (Hian Tian Siang Tee Bio/ Kelenteng Hian Tian
Siang Tee) di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat (Berupa Pratima/Patung)
- Tek Hay Kiong di Tegal, Jawa Tengah (Berupa Patung)

DEWA PINTU

Dewa pintu, atau disebut pula Malaikat pintu, biasanya diletakkan didepan pintu. Bentuknya umumnya berupa gambar Dua orang jendral dengan pakaian jendral perang ala Masyarakat Tionghoa. Gambar tersebut biasanya dilukis pada daun pintu, atau pada secarik kertas, yg kemudian ditempel di depan pintu. Di daratan Tiongkok hingga saat ini, masyarakat tradisional penganut agama Tao masih memasang Gambar Malaikat pintu di depan Pintu utama rumah mereka. Legenda mengenai Malaikat Pintu, ada 5 Versi. Salah satunya adalah sbb:
Pada zaman dahulu, ada seorang wanita cantik yg ditinggal mati oleh suaminya. Suami wanita tsb masih muda. Saat ia meninggal, ia sangat mengkhawatirkan istrinya. Saat tiba di Gerbang Akhirat, pria tsb tidak mau masuk. Penjaga Pintu Akhirat pun menanyakan mengapa ia tak mau masuk.
Pria itu pun menjawab, bahwa ia sangat berat meniggalkan isterinya yang cantik, dan masih muda itu. Tetapi jawab kedua penjaga Pintu Akhirat itu "Tapi, kau sudah mati!". Pria itu pun memohon belas kasihan kedua Penjaga Pintu Akhirat tersebut.
Kedua penjaga Pintu Akhirat itu pun merasa iba,, dan mengijinkan Pria itu kembali ke alam Manusia. Karena kedua penjaga Pintu Akhirat tsb mengkhawatirkan keselamatan Pria itu. Kemudian mereka memberikan Pria itu Sepasang gambar Malaikat Pintu, untuk ditaruh di dada, dan punggung Pria itu. Tibalah Pria itu dengan selamat ke tempat isterinya. Kemudian mereka meletakkan Gambar sepasang Malikat pintu tsb di Altar untuk disembahyangi. Tujuannya agar mereka tak diganggu Roh-roh yg berniat mengganggu dan berbuat jahat pada mereka.

Image Hosted by ImageShack.us
Demikian sekilas yang Saya ketahui. Saya mohon Tambahan dan Koreksinya, bila ada kekurangan dan kesalahan. Terima Kasih.

# 43 - Reply : 07.Aug.2009 11:06



TEK LIE
 
Jakarta

Total post : 77

TE CONG ONG POU SAT (ksitigabha bodhisattva).

Image Hosted by ImageShack.us

Prasetia Agung dari ksitigabha bodhisattva yang penuh welas asih terhadap makhluk yang sedang menderita dan sengsara, diwujudkan dalam janjinya sebagai berikut : " JIKA NERAKA BELUM KOSONG, SAYA TIDAK AKAN MENJADI BUDDHA, JIKA SEMUA MAKHLUK SUDAH TERSELAMATKAN BARULAH SAYA AKAN MENCAPAI KE - BUDHHA - AN"

Tenang sabar bagai bumi , diam berkonsentrasi menyimpan rahasia . Itulah arti sesungguhnya dari TE CONG ONG POU SAT , rangkaian kata ini termuat dalam TE CONG CAP LUN KING .

TE CONG ONG POU SAT pernah berujar bahwa ia akan menolong arwah-arwah manusia yang menderita dan sengsara di neraka . Bahwa TE CONG ONG POU SAT dipandang sebagai Pou Sat , manakala seseorang meninggal dunia arwahnya dituntun dan disadarkan untuk menempuh jalan suci menuju kebenaran .

Dalam kita logat Buddhis menerangkan , secara umum orang beranggapan bahwa TE CONG ONG POU SAT hanya menumpahkan perhatiannya di akhirat belaka , padahal TE CONG ONG POU SAT juga menumpahkan perhatiannya di dunia fana dan alam atas . Hal mana jarang diketahui karena tugas ini sengaja di bebankan kepada TE CONG ONG oleh Buddha Sakya ji lai secara pribadi , Buddha Sakya ji lai menganjurkan supaya pada saat medetasi mencapai tingkat Dyana , sekaligus memasuki tiga lapis alam serta memeriksa isinya , bagi yang menderita dan tersiksa pantas diberi perlindungan dan pertolongan supaya dituntun dan dilindungi .

Selama Sekya ji lai masuk ke nirwana dan Bi Lek Hud belum menjelma di dunia fana , TE CONG ONG bertanggung jawab terhadap makhluk-makhluk yang berada di tiga lapis alam itu , membimbing dan melindungi mereka menuju ke jalan keselamatan .

Ini berarti dispensasi penuh diberikan kepada TE CONG ONG , ia memegang wewenang untuk menghapus , meringankan hukuman setiap arwah yang harus menjalani hukuman sesuai perbuatannya dimasa hidupnya di dunia . Tugas membimbing dan menyadarkan arwah-arwah ini ke jalan benar terhitung selesai setelah para pesakitan itu genap menjalani hukuman . Dalam hal ini perlu kita ketahui , berat / ringan hukuman arwah seseorang adalah sesuai karma perbuatan orang itu sewaktu hidup di dunia fana . Dalam hal inilah TE CONG ONG berperan aktif membantu arwah itu supaya tidak lagi melakukan karma buruk pada penitisannya yang akan datang .

Perlu juga dijelaskan yang dimaksud dengan tiga lapis alam adalah Neraka , dunia fana dan sorga loka . Ketiga lapis alam ini masih termasuk diantara enam lapis alam yang tetap dikuasai roda samsara .

TE CONG ONG POU SAT memang indentik dengan kecakapannya .TE berarti bumi .CONG berarti simpan , sembunyi / genggam . Ong berarti raja , pusat / pemimpin terkemuka . Makna TE CONG ONG yaitu tenang bagai bumi , waspada dan cermat supaya tiada sesuatu yang tersembunyi dalam genggamannya . Secara singkat makna itu berarti PUSAT KETENANGAN DAN KESADARAN .

Lebih jauh dapat pula dijelaskan bahwa huruf TE berarti tekad besar yang ingin mencapai tingkat kesempurnaan dengan tanpa menghiraukan kesukaran dan kesengsaraan yang akan dialaminya , berpegang teguh pada pendirian , ibarat bumi yang tenang dan mantap tak bergeming sedikitpun . Huruf CONG berarti teliti dan cermat , memeriksa seluruh isi yang berada ditiga lapis alam hingga tiada sesuatu yang ketinggalan , bhakan dapat menyingkap tabir rahasia yang tergenggam di dalamnya .Huruf ONG berarti pusat / sentral . TE CONG ONG berarti POU SAT yang satu ini menjadi pusat / senteral kewaspadaan dan kecermatan , pusat ketenagan dan kesadaran . Gelar TE CONG ONG memang diperoleh setelah beliau mencapai kesempurnaan .

Diantara SAM KAI LIOK TO LUN WI yaitu Tuhan , manusia , rasul , iblis , neraka dan binatang , yang paling menderita di neraka , uji / gembelengan paling berat dan keras juga di neraka . Namun TE CONG ONG POU SAT justru berani menantang kesukaran , tak gentar menghadapi derita mau pun sengsara , tekadnya sudah bulat menolong umat manusia . TE CONG ONG POU SAT bersemboyan : Sebelum neraka kosong dari para hukuman , ia bersumpah tak mau menjadi Buddha .

Logis kalau obyek kerjanya berada di neraka , karena dialah pelindung dan pengayom para arwah yang menjalani hukuman serta menuntunnya ke jalan benar , menyadarkan mereka untuk tidak mengulang perbuatan yang tercela . Hal ini memperbesar arti keberadaan dan peran TE CONG ONG POU SAT di neraka . Oleh karena itu beliau juga dinamakn YU BING KAU CU .

Konon TE CONG ONG POU SAT memelihara seekor singa yang diberi nama THE TENG . THE TENG memiliki kesaktian yang laur biasa , telinga kirinya dapat mendengarkan suara di tingkat terbawah sampai tingkat 33 dilangit . Telinga kanannya dapat menyadap suara di tingkat ke 18 dalam lapisan bumi . Dari bantuan THE TENG , TE CONG ONG POU SAT banyak memperoleh informasi yang terjadi dalam tiga lapis alam .

Seribu lima ratus tahun kemudian setelah Sekya ji lai masuk nirwana , kehiupan manusia di mayapada masih juga timbul tenggelam , masih banyak manusia yang belum mau mengerti adanya hukum sebab dan akibat , martabat manusia menjadi makin buruk , malah tak segan melakukan kejahatan terhadap sesamannya . Padahal semua ini bertentangan dengan hukum , hukum kodrat yang mengutamkan welas asih dan cinta kasih . Untuk mengemban tugas berat inilah TE CONG ONG POU SAT merelakan diri menjelma ke dunia menjadi manusia biasa . Lahir sebagai putra mahkota di kerajaan SIN LO KOK dalam wilayah korea timut , sebagai putra sulung keluarga KIM dengan nam KIAU KAK .

Sejak kecil Kim Kiau Kak sudah menunjukan gejala-gejala aneh dan luar biasa dalam cara hidupnya . Takkala tahun Eng Hwi ke 4 , saat Tong Ko Cong bertahta ( 653 masehi ) , dalam usia 24 beliau mencukur gundul rambutnya dengan membawa seekor anjing peliharaannya yang setia bernama Sian Thing , Kim Kiau Kak berlayar ke negeri seberang merantau ke selatan yang akhirnya mendarat di Kng Lam . Dari Kang Lam ia melanjutkan perjalannan ke utara , suatu hari ia berada di Kiu Hoa San , gunung ini terletak di kabubaten Ceng Yang dalam wilayah Propensi An Hwi .

Kiu Hoa san milik Bin Kong pribadi seorang berpangkat yang kaya raya dan sudah pensiun , sebagai orang berada Bing Kong terkenal dermawan , saleh dan supel , sejak masih muda ia sudah bisa melakukan kebajikan terutama terhadap yatim-piatu dan orang tua jompo , orang-orang beribadat dan fakir miskin umumnya . Secara periodik ia membagi uang kepada ratusan fakir miskin yang memabg sudah dijatahkan untuk mereka . Dalam menuaikan drama kebajikan , Bing Kong juga mengumpulkan para Hwesio / saykong pengembara , kepada mereka khusus di sediakan tempat tinggal dan makanan tersendiri , sudah sejak lama usaha Bing Kong untuk mengenapi seratu Hwesio yang dikumpulkan di rumahnya belum juga tercapai , padahal sampai hari itu sudah sembilan puluh sembilan Hwesio terkumpul di rumahnya .

Diluar kebiasaannya entah hasrat apa yang mendorongnya untuk jalan-jalan menghirup angin pengunungan yang segar sambil menimati pemandangan alam , Entah kebetulan / memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan , pagi itu Di JIng ge giam dalam wilayah Ping Yang , Bing Kong bertemu dengan Kim Kiau Kak yang saat itu sedang bersemedi di bawah gubuk . Singkatnya Bing kong memohon kepada Kim Kiau Kak untuk berkunjung ke rumahnya , lalu ia menjelaskan tentang keingginannya selama ini . Ternyata Kim Kiau Kak langsung menerima undangan Bing Kong hanya saja ia mengajukan satu permohonan kepada Bing Kok yaitu sebidang tanah seluas kasa yang dipakai / baju biksu .

Sebidang tanah seluas kasa yang dipakai orang , permintaan ini jelas tak berarti bagi Bing Kong , tanpa pikir ia menyatujui permintaan itu . Diluar tahunya kasa yang dipakai Kim Kiau Kak bukan kasa sembarang kasa , sekali kebut kasa merah di tangannya itu dilemparnya ke udara , kasa itu berkembang dan teruis membumbung tinggi ke angkasa , akhirnya menutupi seluruh puncak Kiu Hoa San .

Sebagai seorang dermawan yang saleh , bajik dan murah hati , meskipun keajaiban ini sempat membuatnya bingung dan takjub , tapi Bing Kong tak menjadi kecil hati , bahkan senang dan gembira , dengan tulus dan iklas ia menyerahkan puncak Kiu Hoa San miliknya kepada Kim Kiau Kak .

Setelah melihat kejadian itu , hari itu ia insaf dan dengan sikap hormat ia persilakan Kim Kiau Kak ke rumahnya . Setiba dirumahnya Bing Kong lansung memangil putra tunggalnya , lalu mohon kepada Kim Kiau Kak sekiranya sudi menerimanya sebagai muridnya . Bermula Kim Kiau Kak hanya memberi pelajaran pokok-pokok dasar agama , baru beberapa tahun kemudian ia menerima putra Bing Kong menjadi murid secara resmi serta ikut bertapa di Kiu Hoa San dengan gelar To Bing Hwesio .

Beberapa tahun kemudian Bing kong yang sudah tua menyadari bahwa darma baktinya selama ini terhadap semua manusia rasanya sudah mencukupi batas kemampuannya , lalu ia mohon petnujuk kepada Kim Kiau Kak , setelah memperoleh restunya , ia pun mulai bertapa di Kiu Hoa San dan mengangkat To Bing Hwesio / putranya sebagai guru . Maka dalam gambar sering kita lihat TE CONG PAU SAT diapait dua orang , yang tua disebelah kanan yaitu Bing Kong , yang kiri seorang Hwesio muda yaitu To Bing Hwesio anak Bing Kong .

Sejak tahun Kai Goan ke XVI , takkala kaisar Tong Hian Cong bertahta . Kim Kiau Kak yang juga bergelar BU Ke Hwesio sudah bertapa di Kiu Hoa San , Hingga tahun Tin Goan ke X ( 749 masehi ) Tepat pada tanggal 30 bulan tujuh imliek , Kim Kiau Kak alias Bu Ke Hwesio meninggal dunia dalam usia 99 tahun , Jenasah Bu Ke Hwesio dikubur dalam sebuah liang batu yang khusus dibuat di gunung itu .

Tiga tahun kemudian para murid dan pemujanya bersepakat membangun menara yang terletak di selatan gunung untuk menyempurnakan jasad yang suci itu , saat liang kuburnya dibuka , badan kasar Bu Ke Hwesio kelihatan masih utuh seperti saat hidup dulu , wajahnya masih tampak segar bugar seperti masih hidup, waktu diperhatikan wajahnaya persis dengan Te Cong Pau Sat dalam gambar , maka orang banyak beranggapan dan percaya bahwa Bu Ke Hwesio tak lain adalah titisan Te Cong Pou Sat .

Waktu menara itu selesai dibangun , lalu dinamakan menara Te Cong , secara resmi murid-muridnya memimpin suatu upacara sembayang besar , malam itu menara di mana jasad Bu Ke Hwesio desemayamkan memancarkan cahaya benderang . Oleh sebab itu bagian selatan gunung itu dinamakan Sin Kong Nia . Sejak saat itu Kiu Hoa San makin diagungkan sebagai tanah suci kaum Buddhis .
Diposkan oleh Angka wijaya di 3:37 PM
Label: GIOK LEK CHING text indonesia ( book in buddhis )

# 44 - Reply : 07.Aug.2009 11:16



TEK LIE
 
Jakarta

Total post : 77

Te Cong Ong Pho Sat - Bodhisatva Ksitigarbha

Image Hosted by ImageShack.us

Sumpah Agungnya yang penuh rasa welas asih berbunyi : “Kalau bukan aku yang pergi ke Neraka untuk menolong roh-roh yang tersiksa di sana, siapakah yang akan pergi? …… Kalau Neraka belum kosong dari roh-roh yang menderita, aku tidak akan menjadi Buddha.”

[我不入地獄,誰入地獄] “Kalau bukan aku yang ke Neraka, siapakah yang akan pergi ke Neraka?” Kalimat ini sering dipakai untuk melukiskan semangat & tekad Kalau bukan saya siapa lagi, hanya satu-satunya yaitu diri sendiri menghadapi dengan keberanian, suatu keadaan yang luar biasa sulit, di mana orang lain satu demi satu akan menghindar dari hal tersebut. Sebenarnya, kalau kita mengerti betapa menakutkan & menderitanya berada di Neraka, yang bisa mengucapkan & bisa melaksanakan sekaligus, barangkali hanya Te Cong Ong Pho Sat.

地藏王菩薩Di Zang Wang Pu Sa {Hok Kian = Te Cong Ong Pho Sat} atau disebut juga Di Zang Pu Sa {Te Cong Pho Sat}. Dalam bahasa Sansekerta disebut Bodhisatva Ksitigarbha, adalah dewata Buddhisme yang paling banyak dipuja oleh masyarakat di samping Guan Yin Pu Sa.

Di berarti bumi yang amat besar. Zang berarti menyimpan. Ini menunjukkan bahwa hati Te Cong Ong Pho Sat seperti bumi yang amat besar, yang dapat menyimpan apa saja, termasuk manusia yang tak terhitung jumlahnya, terutama yang memiliki akar kebajikan.

Te Cong Ong Pho Sat adalah salah satu dari 4 Bodhisatva yang amat dihormati oleh umat Buddhis Mahayana. Keempat Boddhisatva tersebut masing-masing memiliki 4 kwalitas dasar :
1. Guan Yin Pu Sa sebagai lambang Welas Asih.
2. Wen Su Pu Sa sebagai lambang Kebijaksanaan.
3. Pu Xian Pu Sa sebagai lambang Kasih & Pelaksanaan.
4. Di Zang Pu Sa sebagai lambang Keagungan dalam sumpah untuk menolong roh-roh yang sengsara.

Sumpah Agungnya yang penuh rasa welas asih berbunyi : “Kalau bukan aku yang pergi ke Neraka untuk menolong roh-roh yang tersiksa di sana, siapakah yang akan pergi? …… Kalau Neraka belum kosong dari roh-roh yang menderita, aku tidak akan menjadi Buddha.”

Di dalam hati orang Tionghoa, Te Cong Ong Pho Sat adalah Dewa Pelindung bagi arwah-arwah yang mengalami siksaan di Neraka, agar mereka dapat terbebas & terlahir kembali (tumimbal lahir). Beliau sering dikaitkan dengan 10 Raja Akhirat (Shi Tian Yan Wang). Ke sepuluh Raja Akhirat adalah bawahan langsung dari beliau, sehingga beliau bergelar You Ming Jiao Zhu (Pemuka Agama di Akhirat). Beliau menjadi pelindung para arwah, membimbing mereka agar insyaf dari perbuatan buruknya di masa yang lalu, & tak akan mengulangnya lagi, agar dapat terbebas dari karma buruk pada penitisan yang akan datang.

Sejarah Te Cong Ong Pho Sat tercatat dalam Kitab Suci Buddhis sebagai berikut: Ketika Buddha Sakyamuni telah menyelesaikan tugasnya & masuk Nirwana, 1.500 tahun kemudian ia menitis kembali ke dunia & terlahir di Korea, dengan nama Jin Qiao Jue {Kim Kiauw Kak}, seorang pangeran dari keluarga Raja di negeri Sin Lo. Setelah banyak orang mengetahui bahwa ia adalah penitisan Buddha, mereka memanggilnya Jin Di Zang. Beliau berwatak sederhana, welas asih & berbudi, tidak serakah akan harta & tahta. Ia amat gemar mendalami ajaran Kong Hu Cu & Buddha.

Pada tahun 653 M, tahun Yong Wei ke-4, yaitu masa pemerintahan Kaisar Tang Gao Zong, Jin Qiao Jue yang pada waktu itu berusia 24 tahun dengan membawa seekor anjing yang diberi nama Shan Ting (arti harfiah : “Pandai Mendengar”) berlayar menyeberangi lautan, kemudian sampai di pegunungan Jiu Hua Shan, propinsi An Hui.

Gunung Jiu Hua Shan sebenarnya adalah milik Min Gong {Bin Kong}. Min Gong adalah orang yang sangat berbudi, suka menolong orang-orang yang tertimpa kemalangan. Ia berjanji untuk menyediakan makanan vegetarian untuk 100 orang Bikkhu. Namun, setiap kali ia hanya bisa mengumpulkan 99 orang, tidak pernah berhasil memenuhi jumlah 100 orang.

Oleh karena itu, kali ini ia pergi sendiri ke gunung untuk mencari Bikkhu yang ke-100. Ketika melihat Jin Qiao Jue sedang bersemedi di sebuah gubuk, ia segera menghampirinya & mengundangnya datang ke rumah untuk makan bersama. Jin Qiao Jue yang melihat Min Gong kelihatannya berjodoh dengannya, lalu memenuhi undangannya, tapi dengan mengajukan 1 permintaan. Permintaannya sederhana: ia hanya menginginkan sebidang tanah di Jiu Hua Shan seluas baju Kasa-nya (Jubah Suci Bikkhu) yang ditebarkan. Melihat permintaan yang sepele itu, Min Gong langsung menyetujuinya. Namun keanehan terjadi. Ketika Jin Qiao Jue menebarkan baju kasanya ke udara, ternyata baju pusaka tersebut berubah menjadi luar biasa besar sehingga dapat menutup seluruh pegunungan itu.

Demikianlah Min Gong lalu menyerahkan Jiu Hua Shan kepada Jin Qiao Jue yang digunakan untuk mendirikan tempat ibadah & mengajar Dharma. Min Gong bahkan menyuruh putranya untuk menemani Jin Qiao Jue menjadi Bikkhu. Putra Min Gong ini kemudian disebut Dao Ming He Sang {To Bing Hwe Sio}. Selanjutnya Min Gong pun meninggalkan kehidupan-nya yang penuh kemewahan untuk ikut menjadi penganut Jin Qiao Jue & mengangkat Dao Ming He Sang, putranya sendiri, menjadi gurunya, & mensucikan diri di gunung Jiu Hua Shan.

Dewasa ini, gambar ataupun arca Te Cong Ong Pho Sat biasanya dilengkapi dengan seorang Bikkhu muda yang berdiri di sebelah kiri & seorang tua berdiri di sebelah kanannya. Itu adalah Dao Ming He Sang & Min Gong.

Jin Qiao Jue bertapa di Gunung Jiu Hua Shan selama 75 tahun, dengan ditemani oleh anjingnya yang setia. Te Cong Ong Pho Sat wafat di usia 99 tahun, tahun 728 M, pada masa pemerintahan Kaisar Xuan Zong dari Dinasti Tang, pada bulan 7 tanggal 30 penanggalan Imlek. Inilah sebabnya mengapa setiap tanggal tersebut orang Tionghoa banyak membakar hio yang disebut Di Zang Xiang {Te Cong Hio} atau Dupa Te Cong.

Jenazah Jin Qiao Jue ditempatkan pada sebuah gua batu kecil. Sampai pada suatu ketika jenazah dikeluarkan, tapi masih dalam keadaan baik & tidak membusuk, & wajahnya seperti orang tidur.

Pada masa pemerintahan Kaisar Xiao Zong, para umatnya membangun sebuah pagoda di Nan Tai (salah satu puncak di Jiu Hua Shan) & menempatkan abunya di sana. Tatkala pagoda tersebut selesai dibangun & abu telah ditempatkan, ternyata dari pagoda itu mengeluarkan sinar yang terang-benderang, sehingga mengherankan orang-orang yang ada di situ. Tempat itu lalu diubah namanya menjadi Shen Guang Ling yang berarti Bukit Cahaya Dewa. Sejak itu Jiu Hua Shan menjadi salah satu gunung suci umat Buddha.

Di Tiongkok terdapat 4 Gunung Suci untuk umat Buddha :
1. Jiu Hua Shan di propinsi An Hui.
2. Wu Tai Shan di Propinsi Shan Xi.
3. E Mei Shan di propinsi Si Chuan.
4. Pu Tuo Shan di propinsi Zhe Jiang.

Jiu Hua Shan yang merupakan Gunung Suci umat Buddha, sebenarnya adalah salah satu cabang dari pegunungan Huang Shan, dengan tinggi + 1.000 m. Karena 9 puncaknya berbentuk seperti bunga yang sedang mekar, maka orang-orang lalu menamakannya Jiu Hua Shan (Gunung 9 Bunga). Di sini terdapat 108 buah Kuil Buddha. Yang tertua adalah Hua Cheng Si.

Zaman dulu setiap bulan 7 tanggal 30 Imlek, para umat banyak yang berbondong-bondong ke Kelenteng Hua Cheng Si untuk merayakan ulang tahun Di Zang Wang. Bangunan Kelenteng ini sangat indah, penuh ukiran kayu & batu yang bermutu tinggi sehingga para pengunjung dapat menikmati suatu karya seni Tiongkok Kuno yang amat bernilai. Selain itu patut dinikmati pula peninggalan sejarah berupa tulisan & prasasti yang ditulis oleh para Kaisar zaman dulu yang berkunjung ke Kelenteng ini. Ruang utama kelenteng ini disebut Yue Shen Bao Dian, adalah tempat wafatnya Te Cong Ong Pho Sat. dalam ruang ini terdapat batu yang tercatat telapak kakinya. Para pengunjung yang memasuki ruangan ini selalu berdoa sambil membakar dupa.

Dalam masyarakat pemujaan Te Cong Ong Pho Sat amat populer, tidak hanya di kalangan Buddhis saja. Selain dipuja di kelenteng yang bercorak Buddha, Te Cong Ong banyak terdapat di kelenteng-kelenteng keluarga, rumah-rumah abu atau tempat pembakaran mayat. Tujuannya agar roh leluhur mereka memperoleh perlindungan dari Te Cong Ong Pho Sat sehingga dapat lebih cepat terbebas dari siksaan di Neraka & terlahir kembali. Kadang kala upacara di tempat itu dilakukan secara Taoisme, tapi bagi masyarakat umum hal ini tidak penting. Yang penting bagi mereka adalah sembahyang itu sendiri, tanpa perduli apakah itu dari Taois atau Buddhis.

Menurut Buku “Catatan dari Beijing”, pada malam peringatan hari lahir Te Cong Ong Pho Sat, diadakan sembahyang & diadakan pembacaan paritta di kelenteng-kelenteng di Beijing & sekitarnya. Dipersiapkan juga sebuah perahu dari kertas & bambu, di dalamnya ditempatkan arca Te Cong Ong & 10 Raja Akhirat yang juga terbuat dari kertas. Tengah malam setelah selesai upacara sembahyang, lilin di tengah perahu itu dinyalakan & perahu itu diturunkan ke air & dibiarkan mengalir ke mana saja. Masyarakat yang menunggu di tepi sungai juga melepaskan lilin kecil yang diapungkan di atas piring kertas & mengalir mengikuti perahu tersebut. Upacara ini disebut Liu Hua Deng (Mengalirkan Lentera Bunga). Propinsi-propinsi lain di Tiongkok seperti Jiang Su, Zhe Jiang juga mempunyai kebiasaan seperti ini, walaupun dengan variasi yang berbeda.

Te Cong Ong Pho Sat ditampilkan dalam keadaan duduk di atas teratai, memakai topi Buddha berdaun 5 dengan wajah yang memancarkan sinar kasih, membawa tongkat bergelang. Pada saat dibawa berjalan, gelang-gelang yang ada di ujung tongkat ini akan berbunyi gemerincing. Bunyi ini diharapkan dapat membuat serangga atau hewan kecil lainnya menyingkir agar tidak terinjak Sang Bikkhu, sebab salah satu Sila Dasar agama Buddha adalah tidak membunuh makhluk hidup.

Marilah kita mengucapkan doa "NAMO KSITIGARBHA BODHISATTVAYA / NAMO TA YEN TI CHANG WANG PHU SAT" artinya saya berlindung kepada Bodhisattva Ksitigarbha Yang Memiliki Niat Suci yang Maha Besar dan Maha Mulia.

Untuk Memperoleh pahala yang berlimpah dan ketenangan Bathin, Para Umat dapat Mengucapkan Mantra Penghapus karma buruk :
" OM PO LA MO LIN THUO NING SOU HA "
Atau dalam bahasa Palinya :
" OM PRALANI DHANI SVAHA "

—oooOOOooo—
O

# 45 - Reply : 07.Aug.2009 12:30



rudydarwin
[VM]
Jakarta

Total post : 1103

Thanks Sdr Tek Lie, artikelnya banyak membuka mata.
BAru sadar ternyata Dewa yang selama ini saya lihat di altar Tzu Chi ternyata kisah hidupnya seperti ini. Ternyata kaitannya dengan neraka malah utk sebuah misi yang sangat mulia.

Jadi pengen ke Gunung Jiu Hua San, ada 108 kuil Budha, wah, keren banget ya di satu tempat sebanyak itu. Malah ada jejak kakinya pula. Interesting sekali. Thanks udah berbagi artikel...

# 46 - Reply : 07.Aug.2009 20:57



OmCenang
 
Bagansiapiapi

Total post : 12

mau tau tentang segala macam dewa??

http://www.jindeyuan.org

atau mau daftarnya?

http://www.godchecker.com/pantheon/chinese-mythology.php?_gods-list

# 47 - Reply : 08.Aug.2009 05:46



TEK LIE
 
Jakarta

Total post : 77

Maitreya ( Mi Le Pu Sat )calon Buddha yang akan datang.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Patung Maitreya yang sedang dibangun di Kushinagar, India setinggi 152 meter


Image Hosted by ImageShack.us

Dalam agama Buddha, Bodhisatva Maitreya adalah buddha yang akan datang. Dalam bahasa Tionghoa, Maitreya terkenal sebagai Mile Pusa (彌勒菩薩).

Dalam agama Buddha diajarkan bahwa buddha merupakan sebuah gelar, sehingga buddha bukanlah menunjuk kepada Buddha Sakyamuni saja. Buddha yang akan datang setelah Buddha Sakyamuni adalah Buddha Maitreya yang sekarang ini masih bergelar sebagai bodhisatva (calon buddha).

Maitreya bertempat tinggal di surga Tusita, yang merupakan tempat tinggal bagi para bodhisatva sebelum mencapai tingkat ke-buddha-an. Buddha Sakyamuni juga bertempat tinggal di sini sebelum terlahir sebagai Siddharta Gautama di dunia.


[sunting] Maitreya dalam literatur
Buddha Gautama bukanlah Buddha yang pertama di dalam masa-dunia ini (masa-dunia atau kalpa; satu kalpa lamanya kurang lebih 4.320.000.000 tahun). Buddha-Buddha sebelumnya adalah Buddha Kakusandha, Buddha Konagamana, Buddha Kassapa, Buddha yang akan datang adalah Buddha Mettaya (Maitreya). Dalam Cakkavatti-Sihanada Sutta, Sutta ke-26 dari Digha Nikaya dikatakan bahwa

"Pada saat itu kota yang sekarang merupakan Varanasi akan menjadi sebuah ibu kota yang bernama Ketumati, kuat dan makmur, dipadati oleh rakyat dan berkecukupan. Di Jambudvipa akan terdapat 84.000 kota yang dipimpin oleh Ketumati sebagai ibu kota. Dan pada saat itu orang akan memiliki usia kehidupan sepanjang 84.000 tahun, di kota Ketumati akan bangkit seorang raja bernama Sankha, seorang Cakkavati (Raja Dunia), seorang raja yang baik, penakluk keempat penjuru. Dan pada saat orang memiliki harapan hidup hingga 84.000 itulah muncul di dunia seorang Yang Terberkahi, Arahat, Sammasambuddha bernama Metteya"
Di dalam Buddhavacana Maitreya Bodhisattva Sutra disebutkan juga:

"O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari keempat lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi, persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih"

[sunting] Maitreya di Tiongkok

Patung Maitreya (Mi Le) yang sedang dibangun di O Mei, Taiwan setinggi 72 meterPada zaman dinasti Liang (tahun 502 - 550) daratan Tiongkok berada dalam keadaan kacau, perang saudara dan perebutan kekuasaaan. Sehingga para penganut Buddha mengharapkan datangnya Maitreya sebagai penyelamat. Karena itulah lahir sekte Maitreya. Gambar Maitreya sebagai pangeran India yang gagah menjelma sebagai bhiksu gendut yang selalu senyum. Buddha Maitreya dipercayai lahir di provinsi Zhejiang sebagai bhiksu gendut yang disebut Pu Tai He Sang atau Bhiksu Berkantong Kain. Legenda mengatakan bahwa bhiksu ini sering berkelana membawa kantong kain pada permulaan abad ke-10. Dia juga dijuluki Buddha Ketawa, Buddha Mi Le, atau Ju Lai Fo (Buddha yang akan datang). Ia dipercayai sebagai reinkarnasi Maitreya karena saat meninggal beliau menulis syair:

Maitreya, Maitreya yang asli. Manusia selalu mengharapkan kedatangannya. Dia selalu menjelma dalam berbagai bentuk, namun saat dia datang menjelma sebagai manusia, tidak ada yang mengenalnya.

Image Hosted by ImageShack.us
Patung Maitreya (Mi Le) yang sedang dibangun di O Mei, Taiwan setinggi 72 meter

Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Maitreya"

# 48 - Reply : 08.Aug.2009 06:09



TEK LIE
 
Jakarta

Total post : 77

HARI-HARI BESAR PARA BUDDHA DAN BODHISATTVA

Adalah sangat bermanfaat apabila pada hari-hari besar ini ditambah dengan setiap 1 dan 15 Kalender Lunar dan Hari Waisak (Nasional), umat beragama Buddha melaksanakan Vegetarian (makan makanan yang tidak bernyawa) dan berbuat kebajikan demi untuk kebaikan karma kita.

KALENDER LUNAR

Bulan Tanggal Hari memperingati Buddha , Bodhisattva
1 1 Kelahiran Maitreya Buddha ( Mi Le Fo )
1 9 Kelahiran Sakradewa Indranam ( Giok Hong Siang Tee )
2 8 Pelepasan Agung Sakyamuni Buddha ( Se Jia Mo Ni Fo )
2 15 Parinirvana Sakyamuni Buddha ( Se Jia Mo Ni Fo )
2 19 Kelahiran Avalokitesvara Bodhisattva ( Kwan Se Im Phu Sa )
2 21 Kelahiran Samantabhadra Bodhisattva ( Pu Sian Phu Sa)
3 16 Kelahiran Mahacundi Bodhisattva
4 4 Kelahiran Manjusri Bodhisattva ( Wen Shu Phu Sa )
4 8 Kelahiran Sakyamuni Buddha ( Se Jia Mo Ni Fo )
4 28 Kelahiran Bhaisajyaraja Bodhisattva ( Yao wang phu sa )
5 13 Kelahiran Arama Bodhisattva ( Kwan Kong )
6 3 Kelahiran Dharmapala Pancaskandha Bodhisattva ( Wei Tou Phu Sa )
6 19 Pencapaian penerangan agung Avalokitesvara Bodhisattva ( Kwan Se Im Phu Sa )
7 13 Kelahiran Mahasthamaprapta Bodhisattva ( Da Shi Shi Phu Sa )
7 15 - Ulambana (Hok kian = Cioko) ( Mandarin = Cautu )
7 30 Kelahiran Ksitigarbha Bodhisattva ( Ti Cang Wang Phu Sa / TE CONG ONG POU SAT )
8 22 Kelahiran Dipankara Buddha
9 19 Pelepasan agung Avalokitesvara Bodhisattva ( Kwan Se Im Phu Sa )
9 30 Kelahiran Bhaisajyaguru Bodhisattva ( Yao Shi Fo )
10 5 Kelahiran Bodhi Dharma ( Tat Mo Cu Se )
11 17 Kelahiran Amitabha Buddha ( O Mi Tho Fo )
12 8 Pencapaian penerangan agung Sakyamuni Buddha ( Se Jia Mo Ni Fo )
12 29 Kelahiran Avatamsaka Bodhisattva





# 49 - Reply : 08.Aug.2009 07:49



Agnes C
[VM]
Surabaya

Total post : 346

Wow , Good sharing terkadang saya masuk ke kelenteng sempat nanya2 dan hanya bisa baca nama2 yang tertulis di depan patung dewa tsb,tapi rasanya disini bisa mengenal lebih jelas apalagi dilengkapi dengan foto2nya.

Ada yang bisa share kisah2 dan asal unsur cerita tentang TangKi (Tao Tang)tangki secara khusus membuktikan dirinya dimasuki oleh dewa,uniknya tubuh mereka kebal dari senjata tajam dan api.
yang kunon zaman dinasti sudah ada sebagai peramal.jika sampe meleset ramalannya sebagai hukumannya akan dipenggal kepala sama sang Raja. kira2 benar ngak ya kisah2nya? untung sekarang sdh bukan zaman dinasti lagi kalo gak ga ada yang berani berprofesi TangKi ya.

# 50 - Reply : 08.Aug.2009 07:50



Agnes C
[VM]
Surabaya

Total post : 346

Sori lemot..sampe double.Bon admin plz to erase.tq


Halaman :  1  2  3  4  [5]  6 

 



BON is providing basic human rights such as freedom of speech. By using BON, you agree to the following conditions :
 - Use this site at your own risk and it is not the risk of the owner or the webhost
 - If you do not agree to these terms, please do not use this service or you will face consequences
USING THIS SITE INDICATES THAT YOU HAVE READ AND ACCEPT OUR TERMS.
IF YOU DO NOT ACCEPT THESE TERMS, YOU ARE NOT AUTHORIZED TO USE THIS SITE