Sekilas tentang profile kota Bagansiapiapi dan sekitarnya.
Kenali BON lebih dekat
Butuh bantuan ?

 

  • Group BON @ facebook
  • Gallery
  • kongkow
  • event
    
 

FORUM : IPTek & Hobby Sport

 Topic umum : Orang Indonesia di Belakang Lin Dan
    Share


Moderator : MonMonKevin Honggala GuiAkhim bao94BONSportClub

Topic Created : 18.May.2010 00:35    View : 7486    



rudydarwin
[VM]
Jakarta

Total post : 1105

JAKARTA, KOMPAS.com — Di belakang penampilan gemilang tunggal utama China, Lin Dan, ternyata ada pelatih besar kelahiran Indonesia.

Pada ajang Piala Thomas di Bukit Jalil, Malaysia, 9-16 Mei lalu, Lin Dan tampil begitu perkasa. Ia melalap pemain dari negara lain, termasuk pemain peringkat satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei, dan pemain utama Indonesia, Taufik Hidayat, pada babak final.

Setiap kali Lin Dan bertanding, di tepi lapangan duduk pelatihnya, seorang yang sudah uzur. Namun, bagi para pemain bulu tangkis dari China dan Indonesia yang mengenalnya, orang tua itu dikenal sebagai seorang tua yang banyak ilmunya. Seorang locianpwe, kalau menggunakan istilah penulis cerita silat masa lalu, Kho Ping Hoo.

Orang tua itu, Tang Hsien Hu, Tang Xianhu, atau Tong Sinfu, merupakan seorang yang sangat dihormati Lin Dan. Peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 ini selalu mengatakan, semua kemenangannya hanya dipersembahkan buat Tang atau Tong.

"Dia memang pelatih saya, tetapi saya memandangnya sebagai kong-kong, kakek saya. Ia seorang pelatih yang bertanggung jawab dan saya beruntung memilikinya. Ia tidak hanya membimbing saya dari segi teknik, tetapi juga dalam nilai-nilai kehidupan," kata Lin Dan.

Kehadiran Tang atau Tong di tepi lapangan saat Lin Dan menghadapi Taufik Hidayat pada partai pertama final Piala Thomas, Minggu (16/5/2010), sebenarnya merupakan psy war yang sangat dahsyat buat tim Indonesia. Tong memang lahir dan besar di Indonesia, tepatnya di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942. "Di Tiongkok, nama saya sering disebut Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, bergantung dialek daerah masing-masing. Namun, orangtua saya memberi nama Tong Sin Fu," katanya tahun lalu.

Kembali ke Tiongkok saat 1950-an, ia kembali ke Indonesia sebagai pelatih pada 1986. Pertama melatih di klub Pelita Jaya, Tong kemudian ditarik menangani pelatnas Cipayung. Di tangan dingin Tong atau yang kerap dipanggil "Oom Tong" oleh para pemain, lahir pemain-pemain yang kemudian membawa Indonesia mendominasi dunia bulu tangkis 1990-an, seperti Alan Budikusuma, Ardy B Wiranata, Hariyanto Arbi, maupun para pemain putri angkatan Susy Susanti dan Lily Tampi.

Oom Tong inilah yang ikut dalam proyek besar merebut medali emas Olimpiade Barcelona 1992 yang dipenuhi oleh Alan Budikusuma dan Susy Susanti. Bahkan, Tong kemudian ikut membidani lahirnya generasi Hendrawan.

Namun, cerita Tong di Indonesia berakhir pada 1998 setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia ditolak. Ia kemudian kembali ke China dan kembali ditarik melatih timnas China. Di tangannya kemudian lahir generasi baru China, seperti Xia Xuanze hingga Lin Dan dan Xi Jinpeng.


Halaman :  [1]  2 


# 1 - Reply : 18.May.2010 00:39



rudydarwin
[VM]
Jakarta

Total post : 1105

Saat membaca artikel ini di Kompas, sedih juga. Padahal sudah sempat ganti nama ke Fuad Nurhadi.
Belum lagi asli kelahiran Lampung, berbahasa Indonesia, menciptakan pemain2 kaliber dunia untuk mengharumkan nama Indonesia, trus apa lagi?
Di Singapore aja, Gong Li yang ga jelas jasanya apa buat Spore dirayu2 untuk mau menjadi warga negara Spore. Trus di kita kok malah ga?

Moga2 org2 yg hebat tidak melulu dibuang ke luar negeri spt apa yg terjadi dengan Ibu Sri Mulyani sekarang ini.

# 2 - Reply : 18.May.2010 11:29



David Chen
[VM]
Jakarta

Total post : 1038

gue jadi ingat ngomongan hendrawan.. waktu dia ditawarin main di cina..

katanya "lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang lain."

rasa nasionalisme yang sungguh luar biasa.. walaupun berbagai fasilitas ini itu disediain ama negeri cina, tapi dia tetap main dengan mengatasnamakan indonesia..

semoga mata para petinggi lebih terbuka..

# 3 - Reply : 18.May.2010 21:21



CK47
[VM]
Bagansiapiapi

Total post : 996

quote komentar : rudydarwin - Tgl : 18.May.2010 00:39

Di Singapore aja, Gong Li yang ga jelas jasanya apa buat Spore dirayu2 untuk mau menjadi warga negara Spore. Trus di kita kok malah ga?



just commenting..

Gong li menikah dengan seorang pengusaha besar singapore ditahun 1996.. dia sendiri baru mengajukan permohonan singapore citizenship di awal 2008, dan mendapatkannya di november 2006

mengenai artikel topik ini,, i'm speechless ironically, this is our country.. helpless mode

# 4 - Reply : 18.May.2010 23:29



rudydarwin
[VM]
Jakarta

Total post : 1105

quote komentar : CK47 - Tgl : 18.May.2010 21:21
quote komentar : rudydarwin - Tgl : 18.May.2010 00:39

Di Singapore aja, Gong Li yang ga jelas jasanya apa buat Spore dirayu2 untuk mau menjadi warga negara Spore. Trus di kita kok malah ga?



just commenting..

Gong li menikah dengan seorang pengusaha besar singapore ditahun 1996.. dia sendiri baru mengajukan permohonan singapore citizenship di awal 2008, dan mendapatkannya di november 2006

mengenai artikel topik ini,, i'm speechless ironically, this is our country.. helpless mode

Thanks Bro.
Anyway, tau ga betapa bangganya pemerintah Spore sewaktu Gong Li jadi warga negara Spore? Saya justru taunya dari berita di Channel News Asia yg memberitakan pemerintah Spore bangga dgn bergabungnya Gong Li karena semakin menunjukkan bahwa Spore adalah negara yang dijadikan 'rumah' oleh orang2 terkenal.
Kalo kita?
No comment deh hanya berharap jangan lagi hal2 spt ini terjadi di negara kita. Org2 yg pintar dan berjasa jauh lebih penting drpd para koruptor atau org2 yg duduk di parlemen dengan aksi ga jelas tapi kalo urusan menjatuhkan orang, maju nomor satu.

# 5 - Reply : 19.May.2010 08:31



CK47
[VM]
Bagansiapiapi

Total post : 996

nice to share

sebenarnya gua masih binggung.. kembali ke hendrawan, ketika dia menyumbangkan medali perak diolympiade 2000 australia,, disaat itu dia masih mempunyai masalah kewarganegaraan.. sampai ketika megawati uda menjabat presiden, sempat menyinggung, yang berjasa kepada indonesia, kok malah direpotkan proses pengurusan kewarganegaraannya..

presiden aja sudah bersuara, tapi masalah itu tetap belum terselesaikan disaat itu.. sebenarnya dimana letak permasalahannya.. apakah karena hendrawan tidak menyuntik $$$$$ ke kantong pejabat imigrasi? atau karena emang ada masalah teknis? salah satu dari misteri dari negeri yang penuh misteri dan dongeng ini..

# 6 - Reply : 19.May.2010 19:40



rudydarwin
[VM]
Jakarta

Total post : 1105

Yup. Sampai sempat hampir ga bisa ikut Thomas Cup karena masalah kewarganegaraan dan ironisnya, yang menjadi penentu kemenangan Thomas Cup waktu itu justru adalah Hendrawan.
Tanya kenapa????

# 7 - Reply : 20.May.2010 22:29



edy_chen
[VM]
Jakarta

Total post : 45

@ RD : Tanya pada rumput yang bergoyang... waktu TSF ditolak jadi WNI dan balik ke China jadi pelatih,gua udah tebak,,, kalo beliau sukses di China, suatu saat pasti di"sayang"kan dan akan rame dibicarakan,,,, eh, ternyata setelah sekian lama,, terbukti dengan adanya berita dari "Kompas Cyber Media"... sedih, kesel n kecewa setelah baca berita itu, mau kasih comment mikir2 juga gak ada guna,,,, eh, ternyata lo publish disini...hmmm

# 8 - Reply : 21.May.2010 15:29



Tan Cin Pak/Freddy
[VM]
Jakarta

Total post : 41

Memang orang china di Indonesia tidak dihargai sejak dulu,saya pernah baca koran kompas(lupa tgl dan tahun),Susy susanti yang telah menjayakan Indonesia kesusahan dalam pengurusan WNI.saat itu saya sempat bahas dengan teman2ku, dan dinyatakan memang suka begitu.
Kita tidak bisa mengrangkut orang2 berbakat, tapi kita malah mendendang jauh2.
Bukan itu aja,banyak orang pintar tidak bisa berkembang di indonesia, akhirnya keluar negeri mereka sukses besar.
Harapanku smoga pemerintah cepat tanggap semua kelemahannya dan memperbaiki sebelum lebih parah lagi.

# 9 - Reply : 22.May.2010 09:13



Anton Hung
[VM]
Jakarta

Total post : 1906

apakah ini bagian dari efek : kekhawatiran akan prestasi orang lain ?

banyak org merasa dirinya hebat, ketika sy melihat di TV bagaimana sidang wakil rakyat, bbrp wakil rakyat kesannya sok jago, mgkn berpikir ingin dinilai mereka bekerja jadinya malah over action.

banyak kejadian sy temukan di akhir2 ini, org2 yg bukannya merangkul tapi malah bersikap memusuhi. bodohkah org yg bersikap spt ini ?

setelah sri mulyani hengkang, siapa yg pantas disalahkan ?

demikian juga, lihatlah pada lingkungan kita.
adakah kita bersikap sebodoh itu tapi tidak kita sadari ?
saya selalu teringat akan pesan senior saya : para pekerja sosial mengorbankan banyak hal, harusnya didukung jangan dicari2 kesalahan apalagi difitnah ! bila org2 sosial spt ini akhirnya memilih tidak lagi bekerja (krn semua juga manusia, ada batasan) siapakah yg pantas disalahkan ?

Indonesia kehilangan banyak potensi, baik itu BJ Habibie, Tang Hsien Hu, Sri Mulyani ... dan masih akan terus kehilangan banyak potensi bila tidak mau segera menyadari.

Jayakan Indonesia !

# 10 - Reply : 23.May.2010 22:32



LandY ChuA
[VM]
Medan

Total post : 1950

nice info...



semakin berprestasi mgkn akan semakin sulit mdapatkan kewarganegara .. MAYBE salah satu alasannya.. INdonesia ingin menjadikan INDONESIA semakin INDONESIA..

binun kan?


Halaman :  [1]  2 

 



BON is providing basic human rights such as freedom of speech. By using BON, you agree to the following conditions :
 - Use this site at your own risk and it is not the risk of the owner or the webhost
 - If you do not agree to these terms, please do not use this service or you will face consequences
USING THIS SITE INDICATES THAT YOU HAVE READ AND ACCEPT OUR TERMS.
IF YOU DO NOT ACCEPT THESE TERMS, YOU ARE NOT AUTHORIZED TO USE THIS SITE