Sekilas tentang profile kota Bagansiapiapi dan sekitarnya.
Kenali BON lebih dekat
Butuh bantuan ?

 

  • Group BON @ facebook
  • Gallery
  • kongkow
  • event
    
 

FORUM : Tentang Bagansiapiapi & Sekitarnya Diskusi Seputar Bagansiapiapi & Sekitarnya

 Topic umum : Sekilas Info : Bagansiapi -api
    Share


Moderator : MonMon,

Topic Created : 21.Nov.2010 00:12    View : 10155    



LandY ChuA
[VM]
Medan

Total post : 1950

thread ini untuk mengumpulkan semua ARsip /artikel/ story dengan tema BEBAS tapi masih berhubungan dengan BAGANSIAPI-API

bila copas silahkan cantumkan SUMBER
bila artikel yang di tulis sendiri Harap bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

keep update ya..~


Halaman :  [1]  2 


# 1 - Reply : 21.Nov.2010 00:12



LandY ChuA
[VM]
Medan

Total post : 1950

16 Maret 2010

Para nelayan tradisional yang menggunakan sampan dayung di Kuala Bagansiapi-api hingga memasuki Sungai Rokan setiap hari dapat dijumpai. Menangkap ikan dengan menghanyutkan jaring terapung menjelang air laut pasang ini bisa ditemukan setiap hari. Namun di balik upaya menangkap ikan untuk memenuhi tuntutan keperluan sehari-hari itu mereka sebenarnya berhadapan dengan tantangan alam liar yang selalu mengancam yaitu buaya-buaya di Sungai Rokan.

WAK Iman (45) misalnya. Siang itu tengah bersiap-siap untuk melakukan aktivitasnya menangkap ikan. Jaring yang bakal dipergunakan untuk menangkap ikan telah ditata dan diatur untuk memudahkan sewaktu menebarkan jaring. Setelah semuanya siap terlebih tanda-tanda air laut mau pasang telah terlihat Wak Iman langsung mendayung sampannya menuju ke tengah alur. Perbuatannya diikuti oleh nelayan-nelayan tradisional lainnya yang biasanya beroperasi di alur hingga sampai kuala dan masuk ke Sungai Rokan.

Setelah tiba di tempat yang diinginkannya sampan itu tidak lagi didayung tapi dibiarkan hanyut dibawa air laut yang pasang. Seiring dengan itu jaring yang telah disiapkan ditebarkan hingga panjangnya mencapai sekitar 150 meter. Bahkan ada yang lebih. Usai ditebarkan dan berhenti beberapa saat jaring-jaring itu kembali diangkat. Hasilnya sejumlah ikan tersangkut di jaring untuk kemudian diambil dan dikumpulkan pada tempat yang telah disiapkan.

‘’Kalau hasilnya kadang tak tentu do. Kadang banyak sehingga untuk memenuhi keperluan harian sudah lepas. Kadang sedikit. Namanya juga mencari rezeki. Tapi kali ini hasil tangkapan kita agak lumayan bagus’’ kata Wak Iman setelah selesai melaksanakan tugasnya menangkap ikan.

Hanya saja selama menangkap ikan dengan cara-cara tradisional seperti ini penampakan buaya yang menghanyutkan diri dari alur sampai ke kuala dan memasuki Sungai Rokan sudah menjadi pemandangan yang biasa. Kendati demikian para nelayan tradisional tetap diselimuti rasa takut. ‘’Kalau buaya yang sempat aku tengok besarnya kadang tidak tentu. Kadang punggungnya selebar tiga keping papan. Kadang ada juga yang kecil dari itu’’ kata Wak Iman.

Biasanya buaya-buaya yang menampakan dirinya tersebut sering muncul di waktu air laut pasang. Dari kejauhan buaya yang timbul dan membiarkan dirinya hanyut dibawa air laut yang pasang itu layaknya seperti sebatang pohon hitam yang terapung. Setelah dicermati baru kelihatan dengan jelas. Di mana bonggolan yang ada tubuh atas buaya itu dapat dilihat. ‘’Kalau sepintas ya seperti kayu hanyut. Makanya setiap ada kayu yang hanyut kami tetap waspada’’ kata Ulung Utih (44) salah seorang nelayan tradisional Bagansiapi-api.

Dengan menaruh kewaspadaan itu setidaknya hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. ‘’Biasanya kalau nampak buaya kita tengok dulu kemana arahnya bergerak. Kalau gerakannya menuju ke tempat kita biasanya kita sudah siap untuk lari. Daripada dimangsa kan lebih baik lari. Sampan itu didayung cepat-cepat menuju bibir pantai. Parang sebagai senjata tetap kita pegang’’ kata Ulung Utih.

Pengalaman bertemu dengan buaya seperti ini pernah dialami oleh Ulung Utih. ‘’Waktu itu kita mau turun. Begitu sampai di dermaga dan mau masuk sampan tiba-tiba ada buaya yang baru muncul. Jaraknya tidak jauh dari sampan. Lantaran masih di dermaga ya kita masih bisa cepat naik ke atas lagi. Alhasil hari itu saya tidak menangkap ikan’’ kenang Ulung Utih.

sumber : kaskus / Riau posT

# 2 - Reply : 21.Nov.2010 00:21



LandY ChuA
[VM]
Medan

Total post : 1950

Arsip 2005
---------

Kelenteng In Hok Kiong - Bagansiapi-api Riau



*klik untuk memperbesar gambar


Kelenteng In Hok Kiong merupakan kelenteng induk terbesar dan tertua di Bagansiapi-api kelenteng ini di bangun pada tahun 1875 dan dibuat permanen pada tahun 1928.
Kelenteng ini terletak di jalan kelenteng Bagansiapi-api Riau Indonesia.

Kelenteng ini juga identik dengan sejarah kota Bagansiapi-api di mana kota tersebut pertama dibuka oleh perantauan dari China pada tahun 1800 an di dalam kelenteng ini terdapat Dewa Ki Ong Ya yang merupakan Dewa yang dibawa pertama kali oleh perantauan pertama pada tahun 1800an di mana dari 3 kapal yang berangkat dari Tiongkok cuma satu kapal yang selamat di kapal yang selamat adalah kapal yang terdapat Dewa Ki Ong Ya.

Setiap tahun di adakan ritual Bakar Tongkong yang merupakan ritual terbesar di adakan pada bulan ke 5 tanggal 16 imlek atau lebih di kenal dengan Go Ge Cap Lak keseluruhan ritual di pusatkan di kelenteng ini. Tanggal ini di ambil sebagai peringatan karena tanggal tersebut merupakan tanggal kelahiran Dewa Ki Ong Ya dan sekaligus merupakan tanggal di mana rombongan kapal pertama kali tiba di Bagansiapi-api.

Setiap tahun ritual bakar tongkong di kelenteng Ing Hok Kiong di kunjungi tidak kurang 10.000 wisata yang berdasar dari domestik maupun luar negeri seperti China Hongkong Singapore Malaysia Taiwan Dll.

Oleh: Johnson Jakarta - September 2005
by Kelenteng on 4th May 2008 at 21:58 (1582 Views)

sumber. comunity.siutao

# 3 - Reply : 21.Nov.2010 00:21



LandY ChuA
[VM]
Medan

Total post : 1950

ARSIP 2009
-----------

PENDIDIKAN
HUT Ke-52 Tahun Wahidin Dirayakan Sederhana

Oleh : Andi Gunawan | 10-Sep-2009, 17:44:04 WIB

KabarIndonesia - Bagansiapiapi, Yayasan Perguruan Wahidin jalan Pahlawan Bagansiapiapi merayakan hari ulang tahunnya yang ke-52. Perayaan dilaksanakan di halaman komplek sekolahnya tersebut penuh dengan suka cita dan sederhana yang dilanjutkan dengan konvoi parade marching band diiringi murid sekolah berkeliling kota Bagansiapiapi ibukota Kabupaten Rokan Hilir itu. Perayaan hari ulang tahunnya ke-52 tahun itu bertepatan dengan pembicaraan bahwa hari itu adalah hari yang baik, yakni 090909. Perguruan Wahidin melaksanakan HUT tersebut sejak tanggal dijadikannya sekolah Perguruan Wahidin menjadi sekolah nasional.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan HUT perguruan itu ditandai dengan pemberian hadiah-hadiah kepada guru-guru dan siswa-siswa. Guru-guru tersebut karena telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun di perguruan yang tertua dan terbesar di Kabupaten Rokan Hilir ini. Mereka diberikan medali emas sesuai dengan masa pengabdiannya. Tak lupa juga para siswa-siswa tamatan yang juara umum, maupun juara kelas mereka pun tak luput dari pemberian penghargaan dan hadiah.

Demikian dikatakan oleh Sudarno Mahyudin selaku koordinator Perguruan Wahidin kepada Pewarta HOKI disaat usainya perayaan tersebut digelar, Rabu (9/9) kemaren

Dikatakannya bahwa Yayasan Perguruan Wahidin yang semula merupakan sekolah masyarakat Tionghoa yang akhirnya sejak 52 tahun lalu (1957,red) telah menjadi sekolah nasional. Oleh sebab itulah perhitungan perayaan ultah tersebut dihitung.

"Telah dikeluarkan lebih kurang 100 juta rupiah setiap tahunnya untuk memberikan penghargaan-penghargaan dan hadiah-hadiah tersebut," ujarnya.

Dikatakannya, yang bersifat rutin ditanggung oleh pihak Yayasan sedangkan yang berupa motivasi mendorong anak agar berprestasi ditanggung oleh pribadi ketua perguruan dan ketua komite, yakni Kasim, Rojadi dan Jonathan.

Ditambahkannya Sudarno bahwa peringatan HUT wahidin diadakan setiap tahun sebagai ajang introspeksi dan evaluasi diri mengenai apa yang sudah berhasil dicapai dan apa yang belum berhasil diperoleh.

"Yang sudah diperoleh hendaknya disyukuri, yang belum diproleh akan diusahakan pada tahun berikutya," katanya.

Selanjutnya Ia mengatakan biarpun dalam dua tahun lalu hingga saat ini terjadi pertikaian antara pengurus dengan pembina dalam yayasan itu namun karena dengan kekompakan dan persatuan maka akhirnya konflik tersebut bukanlah sebagai penghambat dunia pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sudarno Mahyudin seorang penulis buku Peristiwa Bagansiapiapi dan sinetron Kelangit yang juga seorang tokoh masyarakat Rokan Hilir ini mengatakan bahwa tugas seorang pendidik khususnya di Perguruan Wahidin semakin hari semakin berat dan itu bukanlah merupakan suatu beban jika ditanggulangi secara bersama-sama dengan kekompakan dan persatuan.

Kemajuanpun telah banyak dicapai oleh Perguruan wahidin selama 52 tahun ini. Baik secara fisik maupun prestasi dibidang pendidikan. Hal ini telah ditunjukkan oleh Perguruan Wahidin selama dua tahun ke belakang, yakni tahun ajaran 2007/2008 dan tahun ajaran 2008/2009 dengan dapat mencapai kelulusan siswa 100% baik jurusan IPA maupun IPS.

"Beban tambah berat karena kemungkinan standarisasi nilai kelulusan pada tahun ini akan meningkat. Nilai kelulusan dari 3,1 hingga tahun lalu 5,5 yang kemungkinan pada tahun ini menjadi 5,75," jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa berdasarkan tahun kalender masyarakat cina tahun ini adalah tahun shio kerbau jadi berdasarkan hal tersebut maka pada tahun ini diperlukan kerja keras untuk mendapatkan hasil yang baik. Oleh sebab itu tambahnya diperlukan perhitungan yang jeli dan matang untuk mendapatkan yang terbaik tersebut. Namun Ia mengakui bahwa murid-murid Perguruan Wahidin telah menunjukkan dengan berhasil mencapai nilai tertinggi rata-rata 8.

SUMBER : kabarindonesia

# 4 - Reply : 01.Dec.2010 09:05



no1
 
Pekanbaru

Total post : 125

numpang naya : bagaimana situasi bagansiapiapi sekarang...pada pindah ke luar kota...bagaimana jadinya dengan bagansiapiapi ?

# 5 - Reply : 19.Dec.2010 11:16



Boby KevinHong
[VM]
Bagansiapiapi

Total post : 118

Kacau juga lihat postingan di bawah ini .................


Tahun 1946 Suku Tionghoa Menyerang Penduduk Bagan Siapi-api
Published on Friday 10/12/2010 17:56:08 by munahar

Pekanbaru (LiraNews) - Kedatangan etnis Tionghoa ke Indonesia khususnya ke Bagansiapi-api Riau dan membuat acara Bakar Tongkang yang dilangsungkan tiap bulan Juni satu tahun sekali itu penuh dengan pesan sejarah yang melukai hati masyarakat tempatan.

Budayawan sekaligus tokoh masyarakat Kabupaten Rohil Hangtemong yang juga Ketua Pembina Jaringan Organisasi Melayu Riau (JOMR) kepada LiraNews sepekan terakhir ini menceritakan tahun 1946 setelah Indonesia merdeka Bagan Siapi-api bergejolak.

“Suku Tionghoa ingn menguasai wilayah Bagan Siapi-api. Dengan dibantu para perompak suku Tionghoa peperangan pun terjadi dengan masyarakat tempatan (suku Melayu jawa batak dan minang)” kata Temong.

Akibat peperangan masyarakat tempatan dengan suku Tionghoa ini penyelesaiannya sampai ke Jakarta melibatkan masing-masing kedutaan RRC dan keduataan RI.

Warga Tionghoa bersama para perompak kata Temong turun kejalan-jalan menyerang masyarakat tempatan di Bagan Siapi-api dari berbagai sudut kota menggunakan senjata tajam dan senjata api.

“Chaidir (orang tua) saya waktu itu juga turut menjadi korban penyerangan orang-orang suku Tionghoa. Kakinya tertembak oleh sejata api” ungkapnya.

Pangkalan terbesar suku Tionghoa bermarkas di pulau Ketam mereka menyerang daratan (Bagan Siapi-api) siang dan malam. Banyak penduduk tempatan melarikan diri ke dalam hutan agresi peperangan ini terjadi satu tahun lamanya setelah terjadinya agresi peperangan Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang.

“Suku Tionghoa juga berhasil membunuh pemimpin islam khalifah Usman yang juga tokoh agama di Rohil. Usman terbunuh oleh keganasan suku Tionghoa yang hingga kini makamnya tidak ditemukan” ujarnya.

Menurutnya suatu hari Rivai putera asal Rohil berhasil membunuh Kapitan (Pemimpin suku Tionghoa) dengan sebilah parang (senjata tajam). Suku Tionghoa beserta anggota perompak mundur.

“Sejarah ini dibuktikan hingga sekarang bangunan rumah tua berbentuk istana milik Kapitan di jalan Pahlawan Rohil masih berdiri kokoh. Ini sekaligus membuktikan kalau suku Tionghoa pernah menguasai Bagan Siapi-api” ungkap Temong. (Surya Dharma)

sumber : http://liranews.com/otonomi-daerah/2010/12/10/tahun-1946-suku-tionghoa-menyerang-penduduk-bagan-siapi-api

# 6 - Reply : 20.Dec.2010 13:50



Rudy Mervyn Lim
[VM]
Bagansiapiapi

Total post : 55

@BOBY....
POSTINGAN tersebut memang sengaja dikacau-kacauin oleh pihak yg tidak bertanggung jawab dlm penulisan sejarah Tionghoa BAA gua pusing deh bacanya (habis sudah dikacau / di godok materi benar-nya)

# 7 - Reply : 21.Dec.2010 07:26



David Chen
[VM]
Jakarta

Total post : 1038

bro rudy artikel dari bro boby mungkin ada sedikit benarnya.. jauh hari sebelum informasi dapat dicari dengan gampang seperti sekarang saya pernah diceritakan akong saya masalah ini. hehehe

coba cari info seperti orang yang bernama Tan Tik Hui yang hidup di zaman dulu. dan semoga ngak kaget hehehe.. tapi kalo ada artikelnya boleh juga di share.. hehehe

atau coba baca buku karangan alm mantan koordinator salah satu sekolah di bagan dijamin bakalan lebih bikin binggung lagi hehehehe..

tapi yg udah lewat biarkan lewat.. cerita2 begini takutnya suatu saat menjadi bom atom hehehhee..

benar ngak benar cerita begini biarin berlalu aza.. the truth is out there..

# 8 - Reply : 23.Dec.2010 01:26



CrazyHuang
[VM]
Medan

Total post : 319

share infonya lagi dunk brother..


saya pesan tempat dulu mana tau dapat infoh

# 9 - Reply : 23.Dec.2010 22:35



Boby KevinHong
[VM]
Bagansiapiapi

Total post : 118

@bro david memang kejadian tentang Tan Tik Hui memang benar ada...........
tapi artikel diatas merupakan cerita yg di karang tidaklah berdasarkan kejadian yg sebenarnya................
anda baca ulang lagi mungkin udah dapat keganjalannya,
kyknya kurang pas juga kalau di share disini.....


Masa lalu kita juga wajib tahu juga supaya kejadian begitu tidak terulang di saat sekarang............

@bro crazy huang anda telusuri aja 陳連禮 di google pasti dapat informasi tentang
Tan Tik Hui dan apa yg terjadi di selat malaka thn 1940an.
dalam beberapa thn terakhir malah orang tionghoa malaysia yg terus mencari informasi tentang Tan Tik Hui...............

# 10 - Reply : 23.Dec.2010 23:21



David Chen
[VM]
Jakarta

Total post : 1038

bro boby.. thanks tulisan mandarin mr tan itu.. sehingga bisa tanya om google.. tapi sumpahhh binggung baca artikel mandarin.. hehehehe kalo ada yang mau terjermahin makasih banget.. nanti saya suruh sis landy chua cium deh.. kalo pake jempol kaki pasti dia mau ciumin hihihi..

saya mendengar cerita mr tan ini cuman dari mulut ke mulut.. dan cuman sepotong2 doang.. hehehe


Halaman :  [1]  2 

 



BON is providing basic human rights such as freedom of speech. By using BON, you agree to the following conditions :
 - Use this site at your own risk and it is not the risk of the owner or the webhost
 - If you do not agree to these terms, please do not use this service or you will face consequences
USING THIS SITE INDICATES THAT YOU HAVE READ AND ACCEPT OUR TERMS.
IF YOU DO NOT ACCEPT THESE TERMS, YOU ARE NOT AUTHORIZED TO USE THIS SITE