Sekilas tentang profile kota Bagansiapiapi dan sekitarnya.
Kenali BON lebih dekat
Butuh bantuan ?

 

  • Group BON @ facebook
  • Gallery
  • kongkow
  • event
    
 

FORUM : Diskusi Umum Diskusi Umum

 Topic umum : Sung An, Ang Ho, & Achui - otak pembunuhan atau korban ?
    Share


Moderator : MonMon,

Topic Created : 26.Oct.2012 09:41    View : 10219    



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

Masih ingat tragedi pembunuhan 29 Maret 2011 di Jalan Akasi Medan ?

Setahun yang lalu kita melihat di berita ada penjemputan tersangka di Bagansiapiapi.

Apakah Sung An Ang Ho & Achui warga Bagansiapiapi ?
Teman-teman bila ada yang kenal tolong klarifikasi apakah mereka warga Bagansiapiapi ?

Beberapa hari yang lalu keluarga terdakwa mengadu keadilan ke Wantimpres.
dan hari ini kompas.com mengangkat berita ini di kolom Topik Pilihan

Benarkah mereka otak pembunuhan ?

Detiknews.com menulis :
Kisah ini mirip Sengkon dan Karta yang divonis penjara atas pidana kasus pembunuhan yang tidak pernah mereka lakukan pada 1980-an. Hingga kemudian terbukti bahwa Sengkon dan Karta tak pernah membunuh
( http://news.detik.com/read/2012/10/23/141436/2070428/10/sia-kim-tui-sumiati-mendamba-keadilan-untuk-suami-mereka?9911012 )


Halaman : total 1 hal.


# 1 - Reply : 26.Oct.2012 09:42



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

screenshot kompas.com

# 2 - Reply : 26.Oct.2012 09:48



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

bebrapa kliping artikel di media yang kami temukan sekilas dari petunjuk mbah google :

http://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=70653&Itemid=53

Eksekutor Makan di Rumah Sun Ang - Lanjutan Sidang Pembunuhan A Wie

Written by Edward
Wednesday, 07 December 2011 08:38

Empat orang diduga sebagai eksekutor pembunuhan pa­sangan suami istri Kho Wie To alias A Wie alias Suwito dan Dora Halim sempat makan di rumah tersangka Sun An. Na­mun, terdakwa tetap mengaku tidak mengenal orang yang dibawanya dari Kisaran menuju Bagansiapiapi itu.
Dalam sidang lanjutan, Se­lasa (6/12), terdakwa Sun An mengatakan tidak mengenal empat orang yang dibawanya dari depan hotel Nusa Indah Kisaran menuju Bagansiapiapi.


Menurutnya, orang itu dijemputnya atas permintaan A Chui (DPO) untuk ziarah Cheng Beng di Pula Sinaboi "Saya kan sudah hampir sampai Bagan­batu, A Chui telepon saya, minta jemput kawanya. Saya balik dan menjemput mereka di Hotel Nusa Indah. Tapi saya tidak kenal mereka," kata terdakwa.



Terdakwa tetap bertahan meskipun JPU mengungkapkan fakta lain, bahwa keempatnya sempat makan di rumah terdakwa di Jalan Adi Jaya Bagansiapiapi. "Saya tidak tahu, yang saya tahu orang di rumah ka­bari ada tamu. Saya sama istri dan keluarga langsung ke Sinaboi, sembahyang," katanya.


Dalam pemeriksaan saksi, JPU berupaya membuktikan terdakwa sebagai otak pelaku pembunuhan 29 Maret 2011 di Jalan Akasi Medan itu. JPU mengungkapkan, tukang ojek yang dihadirkan dalam persidangan sebelumnya menga-takan, satu dari empat orang yang dibawanya dikenal sebagai adik terdakwa.


"Keterangan dari tukang ojek, satu dari mereka adalah adik terdakwa," kata JPU An­thony Simamora. JPU juga me­ngatakan, tukang ojek mengaku awalnya Sun An memesan 2, menjadi 7 ojek untuk mem­ba­wa empat orang yang kini be­lum diketahui keberadaanya itu.


Keterlibatan terdakwa da­lam perkara itu, JPU meng­ata­kan sebelumnya terdakwa me­mesan mobil rental di JW Ma­riot, tempat terdakwa me­ngi­nap. Mobil itu kemudian di­pakai oleh Ang Ho (berkas terpisah) untuk membawa em­pat orang atas perintah dari Sun An. Sedangkan Sun An sendiri menggunakan mobil Avanza yang juga disewanya di Medan.


"Waktu itu memang saya pesan mobil, satu. Karena tidak mengerti jalan kemudian me­rental mobil lain berikut su­pirnya, Julianto," kata terdakwa.
Dalam dakwaan JPU di persidangan sebelumnya disebut­kan, rencana pemunuhan itu bermula terdakwa Sun An me­nyuruh terdakwa Ang Ho datang ke Medan pada tanggal 26 Maret 2011.


Tanggal 27, terdakwa Sun An dan Ang Ho bertemu deng­an A Chui, Aki, Achuan alias Acun, Hok Khian dan Hok Khim alias Akok (kelimanya belum ditangkap) di Hotel JW Marriot, merencanakan pembunuhan, ka­rena perselisihan bisnis ka­pal.


Achui bertugas menyewa 4 eksekutor yang hingga kini belum diketahui nama dan alamatnya dan pembunuhan di­rencanakan pada 29 Maret 2011. Sun An merental mobil, Ang Ho menjadi supir untuk mengantar 4 orang anggota Achui. Usai peristiwa pembu­nuhan, Ang Ho membantu pelarian 4 eksekutor.


Dalam perkara pembu­nu­han pasangan suami istri A Wie dan Dora pada Selasa (29/11), JPU melimpahkan dua tersangka ke PN Medan, Sun An alias An Lang (50) warga Komplek Pe­rumahan Teluk Gong 47 RT02/RW08 dan Ang Ho (30), warga Citra V Blok D3/12, Ke­lurahan Kamal, Kecamatan Kalideres Kota, Jakarta Barat. Keduanya didakwa melanggar Pasal 340 Jo Pasal 55 ayat (1) ke (1) dalam dakwaan pertama de­ngan ancaman pidana seumur hidup. Dalam dakwaan alternatif kedua, JPU menjerat kedua terdakwa melanggar Pasal 340 Jo Pasal 55 ayat (1) ke (2), melanggar Pasal 338 Jo Pasal 55 ayat (1) ke (1) dan Pa 338 Jonto Pasal 55 ayat (1) ke (1).

# 3 - Reply : 26.Oct.2012 09:51



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=186866:achui-ancam-habisi-keluarga-sun-an&catid=14:medan&Itemid=27

Achui ancam habisi keluarga Sun An
Monday, 11 April 2011 12:18

MEDAN - Tersangka Sun An dalam pemeriksaan di Polresta Medan pernah menangis karena ancaman Achui yang akan menghabisi keluarganya kalau membocorkan siapa dalang pembunuhan Kho Wie To alias A Wie alias Suwito dan istrinya Dora Halim.

“Saat diperiksa di Polresta Medan, tersangka Sun An menangis karena memikirkan keluarganya. Sun An bilang dirinya diancam Achui, kalau membocorkan siapa dalang penembakan itu,” jelas Ermansyah, kuasa hukum Sun An di Polresta Medan.

Didampingi M. Nasir, Untung Sugiono, Ermansyah menjelaskan ancaman tersebut dilakukan Achui sehari setelah kejadian melaui handphone yakni Kamis (30/3) malam. “Melalui handphone, Achui meminta Sun An tidak membocorkan siapa otak dibalik peristiwa penembakan ini,” kata Ermansyah.

Dalam percakapan melalui handphone tersebut, Achui mengancam menghabisi isteri dan anak Sun An yang berada di Singapura. “Isteri dan anakmu aku habisi kalau membocorkan siapa dalangnya. Bahkan anakmu yang ada di Singapura bisa tidak pulang ke Indonesia,” jelas Ermansyah menirukan pengakuan Sun An.

Mengingat ancaman tersebut lanjutnya, Sun An sempat menangis saat menjalani pemeriksaan di ruang juru periksa unit Jahtanras Polresta Medan. Mungkin Sun An teringat akan keselamatan anak dan isterinya.

Tidak kenal
Dua tersangka yang ditetapkan jadi tersangka dalam kasus pembunuhan ini yakni Sun An dan Ang Ho mengaku tidak kenal dengan empat eksekutor walapun pernah satu mobil dalam perjalanan dari Medan ke Bagansiapi-api.

“Pengakuan kedua tersangka sama sekali tidak kenal dengan empat eksekutor. Mereka hanya menjalankan tugas sesuai instruksi dari Achui,” jelas Ermansyah.
Dijelaskan Ermansyah, setelah selesai melakukan eksekusi, Ang Ho, ditugaskan menjemput eksekutor kemudian membawanya ke Asahan. “Dalam perjalanan, Ang Ho dan empat eksekutor tidak ada berkomunikasi sampai mereka tiba di Asahan,” jelas Ermansyah.

Begitu juga ketika keempat eksekutor dibawa Sun An dan dibawa ke Bagan Siapi-api, tidak juga ada komunikasi. “Sun An mengaku tidak kenal dengan para eksekutor karena yang menyediakan eksekutor dan berapa dibayar semuanya Achui,” jelasnya.

Seperti diketahui, rencana pembunuhan yang salah sasaran itu dilakukan selama 27 hari yakni sejak 2 Maret hingga hari H nya 29 Maret. Yang merencanakan pembunuhan ini Achui yang sampai saat ini masih DPO.

Sebelum melakukan aksinya, Achui bersama beberapa temannya termasuk Sun An dan Ang Ho melakukan pertemuan di Cambridge Jalan S. Parman Medan dan JW Marriott.

Pada tanggal kejadian yakni 29 Maret 2011, sekira pukul 21:30 dilakukan eksekusi penembakan yang mengenai pasutri di depan rumahnya di Jalan Bambu III/Akasia I No 50 Medan.

Setelah melakukan aksinya, malam itu juga ke empat eksekutor di jemput tersangka Ang Ho dari depan Hotel Asean, Jalan Adam Malik, Medan menggunakan mobil Kijang Inova BK 1640 KP. Setibanya di Kisaran, ke empat pelaku dijemput Sun An dan dibawa ke Bagan Siapi-api.

Para eksekutor sempat makan di rumah Sun An. Setelah itu Sun An menyuruh anaknya Toni membawa ke empat eksekutor naik ojek menuju Pulau Sinaboi sekira pukul 12:00. Lima belas menit kemudian, mereka tiba di rumah Achuan, Ketua RT Sinaboi, (DPO) dan diseberangkan menggunakan perahu kecil sampai ke tengah laut.

# 4 - Reply : 26.Oct.2012 09:54



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

Keluarga Terpidana Pembunuhan Mengadu ke Wantimpres

JAKARTA, KOMPAS.com - Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) diharapkan menindaklanjuti dugaan rekayasa kasus yang dialami Sun An (51) dan Ang Ho (34). Keduanya dituduh melakukan pembunuhan Kho Wie To (34) dan istrinya Lim Chi Chi alias Dora Halim (30).

Kasus itu dilaporkan oleh istri Sun An, Sia Kim Tui, dan istri Ang Ho, Sumiyati kepada Watimpres di Jakarta, Selasa (23/10/2012). Keduanya didampingi oleh aktivis Kontras Usman Hamid dan pengacara keduanya, Edwin Partogi. Laporan diterima anggota Watimpres Albert Hasibuan.

Sun An dan Ang Ho telah divonis seumur hidup oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Medan. Putusan itu lebih berat dari tuntutan jaksa yakni penjara selama 20 tahun dengan sangkaan sebagai auktor intelektualis. Putusan keduanya lalu dikuatkan oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi Medan.

Namun, perkara yang menjerat keduanya dinilai telah direkayasa. Menurut Edwin, keduanya tidak tahu menahu mengenai pembunuhan pasangan suami istri yang terjadi di Kelurahan Durian, Medan Timur, Medan pada 29 Maret 2011 .

Edwin menjelaskan, Ang Ho pengusaha barang antik ditangkap di Hotel JW Marriot Medan pada 1 April 2011 . Ang Ho dipaksa mengaku menjadi otak pembunuhan ketika diinterogasi di hotel. Dia lalu disiksa setelah tak mau menuruti. Bahkan, Ang Ho mengalami pelecehan ketika dipaksa membuka celana lalu seorang polisi menempelkan kemaluannya di bokong Ang Ho.

Penyiksaan berlanjut ketika Ang Ho diajak ke beberapa lokasi kejadian. Tak hanya disiksa, dia juga diancam akan dibunuh jika tak mengaku. Perlakuan sama juga dialami ketika dia diperiksa di Polsek Medan Timur.

"Di sana dia ditanya-tanya soal empat eksekutor, pistol, dan motor. Ang Ho bilang enggak tahu. Dia disiksa hingga kemaluannya ditendang. Setiap polisi yang masuk dalam ruangan bertanya hal sama diikuti penyiksaan," kata Edwin.

Sun An pengusaha kapal penangkapan ikan ditangkap keesokan harinya. Sama seperti Ang Ho, kata Edwin, Sun An juga mengalami penyiksaan selama diperiksa. Penyiksaan fisik dan psikis terhadap Sun An dilakukan selama sekitar dua pekan lantaran tak mau menuruti kemauan pihak Kepolisian.

Dalam proses pemeriksaan, keduanya juga dipaksa untuk menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP). Ang Ho tak tahu apa yang tertulis dalam BAP karena terbiasa bahasa Hokkian dan tidak fasih bahasa Indonesia. Ketika itu, dia didampingi pengacara yang ditunjuk Kepolisian.

"Sun An dipaksa oleh Kapolresta Medan saat itu untuk menandatangani BAP. Jika tidak, Kapolresta mengancam akan kembali menyiksa pada malam harinya. Karena takut, Sun An terpaksa menandatangani," kata Edwin.

Eksekutor masih bebas

Edwin menambahkan, BAP itu yang dijadikan dasar majelis hakim untuk menghukum keduanya. Padahal, dalam persidangan keduanya sudah mencabut BAP lantaran tidak sesuai dengan yang dijelaskan ketika diperiksa.

Anehnya, eksekutor yang menurut saksi pembantu korban berjumlah empat orang belum tertangkap. "Tidak ada saksi yang bisa menjelaskan keterlibatan keduanya. Tidak ada juga pistol dan motor yang digunakan pelaku. Dasar putusan hanya BAP yang direkayasa. Keduanya didesain merencanakan pembunuhan tapi tanpa bukti," kata Edwin.

Saat ini, perkara keduanya dalam proses kasasi. Kasus itu juga sudah dilaporkan ke Divisi Propam Polri, Komisi Kepolisian Nasional, Komnas HAM, dan Komisi Yudisial.
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary

# 5 - Reply : 26.Oct.2012 09:57



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

Sun An dan Ang Ho, Disiksa Polisi Diperas Jaksa

JAKARTA, KOMPAS.com — "Suami saya sosok yang baik. Dia enggak mungkin melakukan pembunuhan. Anak saya masih kecil. Kita minta keadilan," kata Sumiyati, istri Ang Ho (34).

"Saya minta suami saya dibebaskan. Suami saya tidak berbuat salah. Sampai sekarang otak pelaku enggak tertangkap," timpal Sia Kim Tui, istri Sun An (51).

Hal itu dikatakan keduanya seusai bertemu dengan Albert Hasibuan, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), di Jakarta, Selasa (23/10/2012), untuk mengadukan kasus yang dialami suami mereka. Keduanya datang didampingi oleh aktivis Kontras Usman Hamid dan pengacara keduanya, Edwin Partogi.

Sun An dan Ang Ho telah divonis seumur hidup oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Medan dengan sangkaan sebagai auktor intelektualis pembunuhan pengusaha Kho Wie To (34) dan istrinya, Lim Chi Chi alias Dora Halim (30), di Kelurahan Durian, Medan Timur, Medan, pada 29 Maret 2011. Kho Wie To dan Dora Halim ditembak mati di rumahnya oleh kawanan pembunuh.

Putusan itu lebih berat dari tuntutan jaksa, yakni penjara selama 20 tahun. Putusan keduanya lalu dikuatkan oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi Medan. Keduanya lalu ditahan di Rutan Klas I Medan.

Disiksa

Edwin mengungkapkan, berdasarkan pengakuan Sun An dan Ang Ho, keduanya disiksa selama pemeriksaan polisi agar mau mengaku sebagai otak pelaku. Siksaan itu antara lain tangan dan kaki diikat, mata ditutup dengan plakban, muka ditutup dengan karung, dan tubuh ditelentangkan di lantai. Setelah itu, wajah terus disiram air.

"Selama menjadi tahanan di Polresta Medan, hampir setiap hari selama kurang lebih dua minggu, Sun An mengalami penyiksaan fisik maupun psikis. Setiap tengah malam Sun An dibawa ke suatu ruangan. Di sana dia menjadi bulan-bulanan kepolisian, mulai dari pemukulan, penendangan, sundutan rokok," terangnya.

Setelah disiksa, lanjut Edwin, keduanya dipaksa menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) yang sudah disusun kepolisian. BAP itu yang menjadi dasar majelis hakim untuk menjatuhkan vonis. Padahal, di persidangan keduanya mencabut BAP lantaran tidak sesuai dengan yang dijelaskan ketika pemeriksaan.

Hingga kini, lanjut Edwin, polisi belum berhasil menangkap eksekutor pembunuhan tersebut. Menurut pembantu korban, eksekutor berjumlah empat orang.

Diperas

Menurut Sia Kim, suaminya sempat dimintai uang oleh jaksa senilai Rp 1 miliar agar kasusnya tidak jalan. Ketika itu, berkas perkara telah tiga kali dikembalikan jaksa peneliti ke kepolisian untuk dilengkapi.

"Suami saya enggak mau kasih. Jaksa terus nyatakan berkas P21 (berkas perkara lengkap)," kata Sia Kim dengan kesal. Selama penanganan di kepolisian, Sun An juga telah mengeluarkan uang hingga Rp 80 juta.
Editor :
Heru Margianto

# 6 - Reply : 29.Oct.2012 22:56



David Chen
[VM]
Jakarta

Total post : 1038

yang muda itu kayaknya pernah ngeliat..

muka2 familiar..

kalo memang bersalah.. hukum harus ditegakkan..

kalo ternyata memang korban.. hukum harus diperjuangkan..

jia you..

# 7 - Reply : 01.Nov.2012 12:54



BON Admin.
[VM]
Jakarta

Total post : 2816

dapat dari youtube

# 8 - Reply : 23.Nov.2012 19:23



ahong
[VM]
Jakarta

Total post : 1183

muncul di kompas hari ini
http://regional.kompas.com/read/2012/11/23/18291787/Empat.Polisi.Terindikasi.Siksa.Sun.An.dan.Ang.Ho?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

# 9 - Reply : 30.Aug.2015 02:38



Hairuzi
[VM]
Pekanbaru

Total post : 629

Gw mau berkomentar tentang ini ha cuma takut hehe...


Halaman : total 1 hal.

 



BON is providing basic human rights such as freedom of speech. By using BON, you agree to the following conditions :
 - Use this site at your own risk and it is not the risk of the owner or the webhost
 - If you do not agree to these terms, please do not use this service or you will face consequences
USING THIS SITE INDICATES THAT YOU HAVE READ AND ACCEPT OUR TERMS.
IF YOU DO NOT ACCEPT THESE TERMS, YOU ARE NOT AUTHORIZED TO USE THIS SITE