Sekilas tentang profile kota Bagansiapiapi dan sekitarnya.
Kenali BON lebih dekat
Butuh bantuan ?

 

  • Group BON @ facebook
  • Gallery
  • kongkow
  • event
    
 

FORUM : Diskusi Umum Chinese Culture

 Topic umum : dewa-dewi
    Share


Moderator : MonMon,

Topic Created : 31.Jul.2009 22:38    View : 66039    



Anton Hung
[VM]
Jakarta

Total post : 1902

seberapa banyak sih Dewa-Dewi menurut pemeluk Kong Hu Cu
di buddhist maupun india juga banyak Dewa-dewi nya

sharing donk, fotonya dan kalo bisa sedikit ritual dan silsilah


Halaman :  1  2  3  [4]  5  6 


# 31 - Reply : 04.Aug.2009 21:32



Aladin
[VM]
Jakarta

Total post : 216

WEI TUO PHU SA / BODHISATVA PELINDUNG KELENTENG

韋陀菩薩 Wei Tuo Pu Sa {Hok Kian = Wi To Pho Sat} bergelar Hu Fa Pu Sa, yaitu Bodhisatva Pelindung Dharma. Wi To Pho Sat disebut juga 韋陀天 Wei Tuo Tian, adalah Bodhisatva Pelindung Wihara-Wihara, Kelenteng-kelenteng, dan bangunan-bangunan suci. Beliau juga adalah Pelindung Kitab Suci Buddha.

Wi To Pho Sat berasal dari Dewa agama Brahmana di India. Menurut legenda, Wi To Pho Sat memiliki 6 kepala & 12 lengan. Beliau menunggang burung merak dengan tangan memegang busur & anak panah. Setelah Wi To diserap (diterima masuk) agama Buddha, beliau menjadi Bodhisatva Pelindung Kelenteng/Wihara & menjadi salah satu dari 8 Jendral Langit bagian Selatan. 四大天王 Si Da Tian Wang (4 Raja Langit) masing-masing memiliki 8 Jendral Langit, sehingga seluruhnya ada 32 Jendral Langit. Wi To Pho Sat adalah pemimpin dari 32 Jendral Langit tersebut.

Sebagai Penjaga Dharma, biasanya Kim Sin (arca) beliau ditempatkan di ruang utama sebuah kelenteng, beradu punggung dengan 彌勒古佛 Mi Le Gu Fo {Bi Lek Ko Hud = Buddha Maitreya}. Pratima beliau digambarkan dengan pakaian perang lengkap dan tangannya membawa Hang Mo Pian (Ruyung Penakluk Iblis).

Menurut buku Buddhis, Wei Tuo adalah putra seorang Tian Wang (Raja Langit) yang karena kebajikannya, Buddha Sakyamuni mengangkat Wei Tuo sebagai Pelindung Buddha Dharma ketika menaiki Nirwana. Oleh karena itu beliau bertugas melindungi Dharma Sang Buddha, melindungi anggota Sangha dari gangguan Mara, dan mendamaikan apabila terjadi perselisihan antar sekte. Apabila seorang Sangha (Mahayana) melanggar Vinaya (Peraturan Kebhiksuan), maka ia dihadapkan kepada Wei Tuo Pu Sa untuk Pertobatan.

Wi To Pho Sat kadang kala ditampilkan sebagai 門神 Men Shen {Mui Sin = Malaikat Pintu) yang menjaga kelenteng-kelenteng bersama-sama dengan 迦闌菩薩 Jia Lan Pu Sa {Ka Lan Pho Sat = Bodhisatva Pelindung Bangunan-bangunan Suci}.

# 32 - Reply : 04.Aug.2009 21:36



Aladin
[VM]
Jakarta

Total post : 216

BUDDHA SAKYAMUNI / PERINTIS AGAMA BUDHHA

釋迦牟尼佛 Buddha Sakyamuni adalah perintis Agama Buddha yang merupakan salah satu dari 3 (tiga) agama besar di dunia dengan penganut yang berjumlah milyaran orang. Buddha Sakyamuni adalah ahli agama yang agung & mulia, juga adalah orang suci yang arif bijaksana & diakui di seluruh dunia.

Ideologi & peradaban (kebudayaan) agama Buddha yang disabdakan Buddha Sakyamuni, diturunkan dari generasi ke generasi, sejak lama telah menjadi aspek penting & utama yang memberikan nuansa aneka warna kebudayaan Dunia Timur, dan juga telah meninggalkan kebudayaan berharga yang sempurna & berlimpah bagi sejarah dunia.

Buddha Sakyamuni adalah guru agung para Dewa & manusia. Perjalanan hidup Beliau yang telah mencapai penerangan sempurna atas usaha sendiri, merupakan kisah perjuangan yang tiada taranya guna mendapatkan kebahagiaan abadi.

Buddha Sakyamuni lahir pada tahun 623 SM di sebuah Kerajaan yang terletak di daerah Madyadesa, India Utara (sekarang Kerajaan Nepal), dengan ibukotanya Kapilavastu. Beliau terlahir dengan nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti : “Seorang yang tercapai cita-citanya”. Sebelum terlahir sebagai Pangeran Sidharta, beliau sebenarnya adalah Maha Bodhisatva yang datang dari Surga Tusita.

Ayah Sidharta adalah Raja Sudhodana yang berasal dari Suku Sakya. Karena berasal dari Suku Sakya inilah maka kemudian beliau disebut sebagai Buddha Sakyamuni. Ibunda beliau adalah Ratu Mahamaya.

Sebelum melahirkan Sidharta, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih bertaring empat mengelilingi tempat tidurnya searah jarum jam sebanyak 3 X. Kemudian gajah putih tersebut bersama sebuah bintang segi 6 (enam) yang bercahaya amat terang memasuki perut Dewi Mahamaya. Setelah mimpi tersebut, Dewi Mahamaya mengandung. Namun sungguh aneh, walaupun telah mengandung selama lebih dari 9 bulan, anak yang ditunggu-tunggu belum juga lahir.

Pada waktu kandungan permaisuri berusia 10 bulan, beliau mengunjungi keluarganya di Devadaha. Saat itu juga jalan-jalan dari Kapilavastu ke Devadaha dibersihkan & dipenuhi dengan hiasan-hiasan indah. Di antara kedua kota terhampar Taman Lumbini yang dipenuhi pohon sal. Pada waktu itu bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, berbagai jenis burung bersiul-siul sepanjang hari. Melihat keindahan Taman Lumbini tersebut, sang permaisuri beristirahat di bawah pohon sal di dalam taman itu. Ketika permaisuri hendak meraih salah satu dahan pohon sal itu, tubuhnya terguncang oleh getaran kelahiran anak. Dengan memegangi dahan pohon & dalam keadaan berdiri, ia melahirkan seorang putra. Waktu itu tepat bulan Waisaka Purnamasidhi.

Sewaktu beliau lahir terjadi keajaiban, seperti yang tercatat dalam Kitab Sakyamuni Buddha : Sungguh mengherankan. Bayi tersebut lahir dalam keadaan bersih, tak ternoda oleh cairan, lendir, darah, ataupun kotoran yang lain. Pada saat kelahiran sang pangeran, 2 arus air jatuh dari langit. Yang satu dingin, & yang satunya lagi hangat. 2 arus air ini membasuh bayi tersebut & ibunya. Bahkan bayi tersebut lahir dalam keadaan berdiri tegak.

Begitu bayi tersebut dilahirkan, ia melangkah 7 (tujuh) langkah. Bunga teratai yang berwarna merah & kuning keemasan muncul dari dalam tanah setiap kali ia menapakkan kakinya. Pada langkah terakhir, dengan tangan kanan menunjuk ke langit & tangan kiri menunjuk ke bumi, bayi tersebut mengumandangkan suaranya dengan lantang : “Akulah yang teragung di antara langit & bumi. Aku datang dari Surga Tusita. Aku datang untuk membabarkan rahasia-rahasia alam semesta & kebenaran tentang kehidupan, guna membebaskan makhluk hidup dari penderitaan. Inilah kelahiranku yang terakhir di dunia ini!”


Bayi tersebut kemudian dibawa ke istana. Raja Suddhodana amat bahagia menyambut kedatangan putranya. Pada hari itu juga di istana datanglah seorang pertapa dari Gunung Himalaya yang bernama Kala Dewala (disebut juga Pertapa Asita), bersama keponakannya Nakala. Saat melihat bayi tersebut, ia langsung menjatuhkan diri & berlutut. Pertapa Kala Dewala tertawa bahagia. Namun kemudian ia menangis tersedu-sedu. Raja sangat heran melihat kejadian ini. Raja menanyakan apakah ada yang tidak baik dalam diri putranya? Pertapa Kala Dewala menjelaskan bahwa ia gembira karena di dunia telah lahir seorang manusia agung, seorang calon Buddha. Namun ia menangis sedih karena mengingat usianya yang telah tua, sehingga tidak mungkin baginya untuk mendengarkan ajaran Buddha ini kelak.

Demikianlah seorang Maha Bodhisatva telah dilahirkan melalui kandungan Permaisuri Dewi Maha Maya yang berhati suci & berbudi luhur. Seminggu setelah melahirkan Pangeran Sidharta, sang ibunda meninggal dunia. Pangeran Sidharta kemudian dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh bibinya (adik Dewi Mahamaya) Putri Prajapati.

Sebagai seorang Pangeran, Sidharta menikmati kehidupan istana yang menyenangkan, nikmat & serba berkecukupan. Raja Sudhodana membangun 3 (tiga) buah istana untuk Pangeran Sidharta. Satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin, & satu lagi untuk musim hujan. Sejak kecil, Sidharta dilimpahi dengan segala jenis kemewahan dunia. Raja Sudhodana mengharapkan putranya naik tahta & menggantikan ayahnya sebagai seorang Raja. Namun Pangeran Sidharta tak terbiasa dengan kehidupan mewah, senang & berkedudukan tinggi seperti ini.

Pangeran Sidharta menikah pada usia 16 tahun dengan Putri Yasodhara, yang masih merupakan saudara sepupu Pangeran Sidharta. Putri Yasodhara yang cantik jelita adalah putri tunggal dari Raja Suprabuddha & Ratu Pamita dari suku Koliya. Untuk bisa menyunting Putri Yasodhara ini diadakan sayembara besar-besaran. Yang mengikuti sayembara ini adalah para ksatria gagah & para pangeran dari hampir semua kerajaan-kerajaan di daratan India.

Sayembara ini selain untuk memperebutkan Putri Yasodhara, juga sekaligus sebagai ajang pembuktian siapa yang terbaik di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Sayembara itu adalah perlombaan memanah dengan busur raksasa, perlombaan menjinakkan kuda liar, perlombaan merobohkan pohon raksasa dengan sebilah pedang. Pangeran Sidharta memenangi seluruh perlombaan yang diadakan & akhirnya menikah dengan Putri Yasodhara. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Rahula, yang berarti belenggu.

Pada usia 29 tahun, Pangeran Sidharta melihat 4 peristiwa yang kemudian mengubah jalan kehidupannya. Pertama, ia melihat seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bersandar pada tongkatnya. Kedua, ia melihat seorang yang menderita sakit parah. Ketiga, ia melihat seorang yang telah meninggal dunia. Keempat, ia melihat seorang pertapa dengan jubah kuning berjalan tenang dengan wajah yang penuh kedamaian. Ketiga peristiwa pertama menyadarkan pangeran akan hukum alam yang pasti akan dialami setiap orang tanpa pandang bulu. Peristiwa keempat menunjukan cara untuk mengatasi penderitaan dunia & mencapai ketentraman hidup.

Demikianlah Sang Pangeran Sidharta meninggalkan istana pada usia 29 tahun bersama pengiringnya yang setia, Channa & kuda putihnya Kanthaka. Beliau membina diri dengan penuh penderitaan di hutan. Ia berguru kepada pertapa-pertapa terkenal, seperti Resi Alara Kalama & Uddaka Ramaputra.

Enam tahun lamanya beliau membina diri hidup sebagai seorang pertapa di hutan Uruvela. Ia menjalani penyiksaan diri & pantang makan yang keras, sehingga beliau menjadi kurus kering & amat lemah. Pada waktu beliau diliputi kekosongan bathin & penderitaan badan yang amat sangat, serombongan penari lewat di dekat tempatnya bertapa, sambil mendendangkan nyanyian merdu: “Jika senar mandolin ditarik terlalu kencang, akan putuslah senarnya. Sebaliknya jika senar mandolin terlalu dikendurkan, akan hilanglah suaranya.” Bait lagu ini menyadarkan beliau akan perlunya merawat badan untuk menjamin kesegaran bathin. Ia sadar bahwa dengan penyiksaan diri yang berat seperti itu tidak akan berhasil mencapai penerangan sempurna.

Pada suatu hari datanglah Sujata, seorang wanita muda, mempersembahkan makanan dari susu murni ke hadapan pertapa Gautama, sebagai pernyataan terima kasih atas terkabulnya permintaannya untuk memiliki seorang putra. Sujata mengira pertapa Gautama adalah penjelmaan dari dewa yang telah mengabulkan permintaannya, sehingga ia menyajikan masakan yang enak bagi pertapa kurus namun agung itu. Pertapa Gautama menerima persembahan makanan Sujata.

Sementara itu 5 orang pertapa yang mengikuti pertapa Gautama semenjak ia menjalani penyiksaan diri, ketika melihat ia mulai makan secukupnya, meninggalkan pertapa Gautama karena menganggap beliau telah kalah, karena telah menjalani kehidupan yang berlebihan.

Kemudian pertapa Gautama berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan bangkit & berhenti samadhi sebelum cita-citanya untuk mendapatkan penerangan sempurna demi kebahagiaan umat manusia sejagat raya tercapai. Dengan tekad yang tak tergoyahkan pertapa Gautama menekuni kembali Samadhi Anapanasati Bhavana selama 7 minggu, yang pernah dilatihnya sewaktu beliau berusia 7 tahun.

Dalam samadhinya, pertapa Gautama mencapai Jhana pertama, di mana kegiuran & kegembiraan muncul dari penyepian bersama dengan penalaran & pengamatan. Namun, perasaan itu tidak menguasai pikirannya. Dengan berakhirnya penalaran & pengamatan ia mencapai & tinggal di dalam jhana kedua, di mana kegiuran & kegembiraan muncul dari konsentrasi, dengan kedamaian & pemusatan pikiran pada 1 titik, tanpa penalaran & pengamatan.Ia tinggal dengan penuh perhatian & sadar, tinggal dengan keseimbangan. Ia mencapai & tinggal dalam jhana ketiga. Meninggalkan kenikmatan bahkan sebelum lenyapnya kegembiraan & ketenangan bathin, ia mencapai & tinggal dalam jhana keempat, yang adalah tanpa rasa sakit maupun kenikmatan, hanya berisikan kesucian yang timbul dari perhatian & keseimbangan.

Pada pengamatan pertama malam itu, beliau memperoleh pengetahuan pertama, yaitu ia mengingat banyak rincian kehidupannya di masa yang lalu dengan amat jelas, beliau juga melihat banyak siklus kehancuran & pembentukan alam semesta. Pada pengamatan yang kedua kalinya pada malam itu, dengan pandangan yang terang & suci beliau memperoleh pengetahuan kedua, yaitu ia melihat mahluk hidup mati & dilahirkan kembali (tumimbal lahir), mahluk hidup yang melakukan perbuatan jahat, pada saat kematiannya dilahirkan kembali dalam keadaan yang menderita & sengsara. Tetapi mahluk hidup yang menjalani hidup baik dalam perbuatan, kata-kata & pikiran, pada saat kematian dilahirkan kembali dalam keadaan yang membahagiakan.

Kemudian pada pengamatan terakhir malam itu ia memusatkan pikirannya yang jernih & bersih pada pengetahuan terhadap kehancuran kekotoran bathin. Ia memperoleh pengetahuan ketiga yaitu: ia menyadari adanya penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, & jalan menuju lenyapnya penderitaan. Setelah menyadari kebenaran ini, pikirannya bebas dari nafsu indria, bebas dari nafsu keinginan, & bebas dari ketidaktahuan. Ia menyadari bahwa kelahiran kembali telah dilenyapkan; bahwa telah terlaksana apa yang harus dilaksanakan.

Akhirnya di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, tepat pada malam Purnamasidhi di bulan Waisak, pada usia 35 tahun pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna atau Samyak Sambodhi, & dengan demikian menjadi Samyak Sambuddha, Buddha Yang Maha Sempurna. Sejak itu beliau disebut sebagai Buddha Gautama.

Tepat 2 bulan setelah mencapai kesempurnaan, di Taman Rusa Isipatana, Buddha Gautama untuk pertama kalinya membabarkan Dharma, Ajaran-Nya, kepada 5 orang pertapa yang menemaninya selama masa penyiksaan diri. Dalam khotbah-Nya yang pertama, Buddha membabarkan Empat Kesunyataan Mulia & Jalan Mulia Beruas Delapan. Peristiwa ini sekarang diperingati oleh umat Buddha sebagai Hari Suci Asadha, hari pemutaran roda Dharma. Selanjutnya, kelima orang pertapa itu ditahbiskan oleh Buddha menjadi Bhikkhu-bhikkhu yang pertama.

Buddha membabarkan Dharma selama 45 tahun kepada murid-muridnya yang tak terhitung jumlahnya & mendirikan Sangha (persaudaraan suci para Bikkhu/Bikkhuni).Pada tahun 543 SM pada usia 80 tahun, pada bulan Waisaka Purnamasidhi, di kota Kusinara, di kebun bunga Sala, di bawah 2 batang pohon sal, Buddha Sakyamuni, Guru Agung para Dewa & manusia, dengan tenang Parinibbana (wafat). Para dewa & brahma terus menaburkan bunga-bunga & air suci menyambut Buddha Yang Maha Sempurna meninggalkan bentuk-Nya di dunia fana ini. Raga Buddha telah disempurnakan, tetapi ajaran Dharma-Nya tetap hidup & jaya sepanjang masa mengarungi seluruh penjuru alam semesta.

Bagi umat Buddha, hari lahir Pangeran Sidharta Gautama, saat pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna, & hari Pari Nibbana Buddha Sakyamuni diperingati setiap tanggal 15 bulan 4 Imlek, atau yang lebih dikenal dengan Perayaan Hari Trisuci Waisak.

Dalam bahasa Mandarin, 如來佛Ru Lai Fo
{Hok Kian = Ji Lay Hud } merupakan sebutan penghormatan kepada Buddha Sakyamuni. Sebutan Ru Lai merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, Tathagata, yang berarti Ia Yang Datang.


Di kelenteng-kelenteng, hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati pada tanggal 8 bulan 4 penanggalan Imlek. Hari beliau 成道 Cheng Dao {Sing To} mencapai Penerangan Sempurna diperingati setiap tanggal 8 bulan 12 penanggalan Imlek.

# 33 - Reply : 04.Aug.2009 21:38



Aladin
[VM]
Jakarta

Total post : 216

WEN CE PHU SA - MANJUSRI BODHISATVA


Agama Buddha menganggap bahwa sumber dari semua penderitaan dalam kehidupan manusia adalah 無明 Kesesatan (Tidak bisa sepenuhnya melihat kebenaran sejati dari suatu masalah / benda). Untuk mengatasi kesesatan ini, harus mengandalkan kearifan / kebijaksanaan.

文殊菩薩Wen Shu Pu Sa {Hok Kian = Bun Cu Pho Sat} adalah perwujudan dari kebijaksanaan. Oleh sebab itu, walaupun beliau bukan tokoh dalam sejarah, tapi karena beliau bisa menampilkan ciri khas dari ideologi agama Buddha secara jelas & nyata, maka kedudukannya dalam agama Buddha sangat tinggi. Beliau adalah Bodhisatva pertama yang disebut dalam kitab-kitab suci. Bahkan ada kitab suci tertentu yang menyatakan bahwa Wen Shu Pu Sa adalah guru dari semua Buddha pada 3 masa kehidupan.

Wen Shu Pu Sa disebut juga 文殊師利Wen Shu Shi Li (baca: Wen Su Se Li), diterjemahkan secara bebas menjadi 妙吉祥 Miao Ji Xiang (Keberuntungan Yang Mukjizat), 法王子 Fa Wang Zi (Putra Raja Dharma), dsb. Wen Shu Pu Sa yang mewakili kebijaksanaan, & 普賢菩薩 Pu Xian Pu Sa yang mewakili Budi Pekerti, di kelenteng-kelenteng di Tiongkok & Jepang seringkali ditampilkan di samping Sang Buddha Sakyamuni.

Manjusri adalah Bodhisatva Kebijaksanaan & Pengetahuan, & dianggap sejajar dengan Bodhisatva Avalokitesvara atau 觀音菩薩 Guan Yin Pu Sa {Kwan Im Pho Sat} yang merupakan Bodhisatva Welas Asih. Manjusri dalam bahasa Sansekerta berarti “Keagungan Yang Lemah Lembut”. Orang Tionghoa menganggap Manjusri adalah Bodhisatva yang memberi penerangan & kebijaksanaan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma.

Tempat suci Bun Cu Pho Sat adalah di Gunung 五臺山 Wu Tai Shan, propinsi Shan Xi. Di tempat ini Bun Cu Pho Sat sering menampakkan kemukjizatannya. Gunung Wu Tai Shan ini adalah salah satu dari 4 gunung suci Buddhisme di Tiongkok, & menjadi tempat berkumpul para penganut Bun Cu Pho Sat. Walaupun untuk mencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui perjalanan yang sulit & berliku-liku. Mereka ingin merasakan suatu ketentraman bathin dengan mencapai kelenteng Wen Shu Pu Sa yang berada di puncak gunung tersebut.

Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak umat di puncak gunung suci tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap sebagai “hallusinasi” dari mereka yang mengalami kelelahan karena mendaki gunung tersebut. Namun harus diingat bahwa orang-orang yang naik ke sana umumnya adalah mereka yang ingin mencari “Kebijaksanaan”, & mereka telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga mempunyai pikiran yang tidak akan mudah goyah atau tidak stabil, atau mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan hallusinasi tersebut.

Bentuk Bun Cu Pho Sat yang paling sering dilihat adalah tangan kanan memegang pedang mestika, tangan kiri memegang gulungan kitab suci, menunggang seekor singa berbulu hijau. Pedang mestika melambangkan kearifan yang dapat memutuskan semua kilesa (kegelisahan bathin). Gulungan kitab suci melambangkan kearifan yang seperti lautan & menuntun umat manusia memasuki gudang kitab suci. Singa yang ditunggangi dihargai sebagai Raja Hewan, & disebut juga Auman Singa, menyebarkan Dharma Buddha. Maka Bun Cu Pho Sat menunggang singa mengandung arti mengembangkan Buddha Dharma & menyelamatkan umat manusia.

Dalam kisah Miao Shan, singa hijau Wen Shu Pu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api, sedangkan gajah putih Pu Xian Pu Sa adalah Dewa Air. Kedua Dewa ini menangkap rombongan Raja Miao Zhuang yang akan berziarah ke Xiang Shan, tempat Miao Shan. Kemudian keduanya ditaklukan oleh para Panglima Langit. Setelah Miao Shan menjadi Bodhisatva, kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. Miao Shu (dalam versi yang lain disebut sebagai Miao Qing) diangkat sebagai Wen Shu Pu Sa & Miao Yin diangkat sebagai Pu Xian Pu Sa. Walaupun Wen Shu Pu Sa & Pu Xian Pu Sa berasal dari India, akhirnya mempunyai bentuk Tionghoa 100 %.

Kelenteng yang khusus untuk menghormati Bun Cu Pho Sat jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan tersebut. Namun arca-arcanya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Bun Cu Pho Sat sering ditampilkan dalam bentuk 3 Serangkai bersama dengan Buddha Sakyamuni & Pho Hian Pho Sat. Atau bersama dengan Kwan Im Pho Sat & Pho Hian Pho Sat.

Dalam bentuk 3 Serangkai dengan Kwan Im, biasanya Bun Cu Pho Sat & Pho Hian Pho Sat ditampilkan dalam wujud wanita. Kwan Im sebagai lambang Maha Pengasih & Penyayang, Bun Cu melambangkan kebijaksanaan, Pho Hian sebagai lambang pelaksanaan cinta kasih. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme.

Hari lahir Wen Shu Pu Sa diperingati setiap tanggal 4 bulan 4 Imlek, & diperingati secara khusus setiap tahun oleh umat Buddhisme Zen.

# 34 - Reply : 04.Aug.2009 21:40



Aladin
[VM]
Jakarta

Total post : 216

MEN SHEN / MENG SIN / DEWA PINTU

Asal usul keberadaan 門神 Men Shen {Hok Kian = Mui Sin} Dewa Pintu sudah sangat lama. Hal ini membuktikan bahwa dari zaman dulu, rakyat sangat menaruh perhatian pada keamanan pintu. Fungsi Dewa Pintu walaupun tidak bisa dibandingkan dengan sistem keamanan berteknologi canggih seperti zaman sekarang, namun peranan yang bisa dikembangkan yaitu memberikan rasa tenang & tentram, bahkan tidak bisa diharapkan dari sistem keamanan. Biar bagaimanapun rakyat Tionghoa percaya bahwa Dewa Pintu bisa mengusir hantu atau setan. Hal ini juga tidak dapat dilihat atau dihadapi bahkan oleh sistem keamanan dengan teknologi canggih sekalipun.

Dewa Pintu ada beberapa macam: ada 武將門神 Wu Jiang Men Shen (Dewa Pintu Militer), 文官門神 Wen Guan Men Shen (Dewa Pintu Sipil), 祈福門神 Qi Fu Men Shen (Dewa Pintu Memohon Rezeki), dan lain-lain. Di berbagai tempat Dewa Pintu yang dihormati tidak sama. Selain Dewa Pintu 神荼 Shen Tu & 鬱壘 Yu Lei yang paling kuno dikenal orang, 秦叔寳 Qin Shu Bao {Hok Kian = Cin Siok Po} alias 秦瓊 Qin Qiong {Cin Kiong} & 尉遲恭 Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} alias 尉遲敬德 Yu Chi Jing De {Ut Ti Keng Tek} adalah Dewa Pintu yang pengaruhnya paling besar, & tersebar paling luas.

Qin Shu Bao {Cin Siok Po} & Yu Chi Gong {Ut Ti Kiong} adalah salah satu dari Dewa Pintu Militer. Cin Siok Po & Ut Ti Kiong adalah 2 Jendral terkenal pada masa Dinasti Tang [618 – 907 M] yang membantu Kaisar 唐太宗 Tang Tai Zong {Tong Thai Cong} – 李世民 Li Shi Min {Li Se Bin} mendirikan Dinasti Tang {Tong}. Bagaimana mereka berdua bisa menjadi Dewa Pintu ?

Berdasarkan buku 歷代神仙通鑒 Li Dai Shen Xian Tong Jian, pada masa-masa awal Kaisar Li Se Bin naik tahta, beliau sering kali merasa tidak enak badan, pada malam hari sering bermimpi bertemu dengan hantu/setan yang datang mengganggu. Mungkin hal ini disebabkan karena pada masa awal berjuang mendirikan kekuasaan negara, beliau telah membunuh banyak orang. Dalam buku tersebut diceritakan : “Di luar pintu kamar tidur dilempar batu bata & genteng, setan & siluman berteriak-teriak, 36 bangunan istana, 72 pekarangan, tiada malam yang tenang”. Kaisar Tong Thai Cong diganggu sampai makan tak enak, tidur tak nyenyak.

Setelah Jendral Cin Siok Po & Jendral Ut Ti Kiong mengetahui peristiwa ini, lalu memohon untuk dapat menjaga keamanan dengan berdiri di kedua sisi pintu istana dengan memakai pakaian militer. Pada malam tersebut, benar-benar tidak terjadi apapun, tidak ada suara-suara dari roh-roh jahat yang mengganggu. Kaisar Tong Thai Cong merasa amat gembira. Namun kalau menyuruh mereka berdua berdiri sepanjang malam di depan pintu sampai langit terang (pagi hari), juga terlalu meletihkan (kasihan juga mereka berdua).

Kaisar Tong Thai Cong lalu menitahkan ahli lukis untuk menggambar mereka berdua dalam ujud “Memakai baju besi & memegang tombak bersabit, nampak berwibawa dengan sorot mata yang tajam.” Setelah selesai, kedua gambar tersebut digantung di kedua daun pintu istana. Sejak itu, Kaisar Tong Thai Cong – Li Se Bin tidak diganggu lagi oleh roh-roh halus itu lagi. Peristiwa ini tersebar luas di kalangan masyarakat. Oleh orang-orang pada generasi kemudian, Cin Siok Po & Ut Ti Kiong menjadi Dewa Pintu yang dihormati di rumah-rumah penduduk.

Khusus kelenteng yang bercorak Buddhisme, sering memakai gambar 2 orang Bodhisatva yang berpakaian perang lengkap, sebagai Dewa Pintu yaitu 伽藍菩薩 Qie Lan Pu Sa & 偉陀菩薩 Wei Tuo Pu Sa.

Pemasangan gambar Dewa Pintu ini, kemudian tidak terbatas hanya pada pintu kelenteng saja, tapi sudah umum terdapat di tiap bangunan, baik itu rumah penduduk maupun kantor-kantor. Sekarang hal ini dapat kita lihat di Taiwan, Hongkong & Singapura, bahkan di Jepang & Korea. Di antara beberapa macam Dewa Pintu, dewasa ini yang sering dipasang gambarnya di rumah-rumah penduduk, adalah Cin Siok Po & Ut Ti Kiong. Cin Siok Po & Ut Ti Kiong ini pulalah yang gambarnya kita lihat sekarang pada daun pintu sebagian besar kelenteng yang ada.

# 35 - Reply : 04.Aug.2009 21:45



Aladin
[VM]
Jakarta

Total post : 216

SAM KWAN TAY TE / SAM GWAN KONG

Cap Go Me (tanggal 15 bulan 1 Imlek) adalah penutup dalam rangkaian perayaan menyambut Tahun Baru Imlek. Dalam Taoisme perayaan ini disebut Shang Yuan untuk memperingati Se Jit (ulang tahun) salah satu dari San Guan Da Di {Hok Kian = Sam Kwan Tay Te} yaitu Tian Guan. Pada hari ini mereka mengharap berkah dari Tian Guan (Shang Yuan Tian Guan Ci Fu).

Sebutan untuk 三關大帝 San Guan Da Di/ Sam Kwan Tay Te ada bermacam-macam :

Pertama, sebutan 三元 San Yuan / Sam Gwan. Sebutan ini menunjukkan waktu tiga Kaisar Kuno turun ke dunia, yaitu :
1. Cia Gwe Cap Go (tgl 15 bulan 1 Imlek) = Shang Yuan {Hok Kian = Siang Gwan}
2. Cit Gwe Cap Go (tgl 15 bulan 7 Imlek) = Zhong Yuan {Hok Kian = Tiong Gwan}
3. Cap Gwe Cap Go (tgl 15 bulan 10 Imlek) = Xia Yuan {Hok Kian = He Gwan}

Kedua, adalah 三元公 San Yuan Gong {Sam Gwan Kong}. Ini adalah sebutan penuh penghormatan kepada 3 orang Kaisar Kuno yang terkenal yaitu : Kaisar 堯 Yao / Giauw, Kaisar 舜 Shun {Sun}, dan Kaisar 禹 Yu {Ie}.

Kaisar Yao [ 2357 SM – 2258 SM ] adalah seorang Kaisar yang terkenal karena kesederhanaannya & amat memperhatikan kepentingan rakyat. Konon tempat tinggal beliau bukanlah sebuah istana yang gemerlapan seperti umumnya seorang raja, tetapi beliau lebih menyukai tinggal di sebuah rumah sederhana yang beratap rumbia & tiangnya terdiri dari kayu hutan biasa, tanpa dicat. Makannya adalah beras kasar dengan sayur-sayuran sederhana & minumnya hanyalah dari sumber air di gunung. Pakaian yang dikenakannya hanya terdiri dari kain kasar, bila cuaca dingin ditambah dengan mantel dari kulit rusa.

Jika rakyatnya ada yang tertimpa kelaparan, Kaisar Yao berkata : “Akulah yang menyebabkan kalian lapar”. Bila ada rakyatnya yang kedinginan karena tidak memiliki pakaian cukup, Kaisar Yao akan berkata : “Akulah yang menyebabkan kalian tidak dapat berpakaian cukup”, & bila di dalam negerinya ada seorang yang berbuat kesalahan, Kaisar Yao akan berkata : “Akulah yang menyebabkan kalian sampai terjerumus ke dalam lembah kejahatan”. Demikian bajiknya Kaisar Yao, sampai semua kesalahan & kesengsaraan rakyat dianggap adalah tanggung jawabnya sendiri.

Oleh karena itulah pada masa pemerintahannya yang hampir 100 (seratus) tahun lamanya ini, walaupun ada bencana kekeringan yang hebat & banjir yang dahsyat, rakyat tidak pernah menggerutu & tetap mencintainya. Karena kebajikannya inilah, konon dalam istananya yaitu rumah sederhana yang beratap rumbia, sering muncul gejala alam yang merupakan pertanda baik, seperti munculnya Burung Hong yang bertengger di atap, rumput yang disediakan untuk kuda mendadak berubah menjadi padi, dan lain-lain.

Selain dirinya adalah seorang Kaisar yang bijaksana, Kaisar Yao juga dibantu oleh sejumlah menteri yang benar-benar cakap. Salah satunya ada seorang menteri yang pandai yaitu Shun, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan. Ketika mengundurkan diri dari tahta, Kaisar Yao memilih Shun sebagai penggantinya. Kaisar Yao tidak mewariskan kedudukannya kepada putranya, karena sang putra dianggap tidak mampu.

Tak lama setelah melahirkan Shun, ibu Shun meninggal dunia. Lalu ayah Shun menikah lagi. Istri baru ini melahirkan Xiang, adik tiri Shun. Ayah Shun amat sayang kepada istri kedua & anaknya, Xiang, tapi Shun ditelantarkan & dibiarkan mengerjakan pekerjaan yang berat. Ibu tirinya seringkali memukul Shun, bahkan sering berusaha menganiaya Shun sampai mati, tapi Shun tetap taat & berbakti kepada kedua orangtuanya.

Akhirnya karena deritanya sudah tak tertahankan, Shun melarikan diri dari rumahnya & tinggal di sebuah gubuk reyot di kaki gunung Li Shan. Di sana ia seorang diri bercocok tanam. Karena pribadinya yang baik & rajin ini, seekor gajah putih & burung-burung pun datang membantu.

Shun seringkali mengajar para petani sekitar tempat itu bagaimana cara bercocok tanam, menangkap ikan, & membuat perabot rumah tangga dari tanah liat, sehingga mereka amat mencintai Shun. Kemudian para petani & perajin tanah liat dari tempat lain datang & bertempat tinggal di situ. Maka lama kelamaan tempat itu berubah menjadi sebuah desa kecil yang ramai. Setahun kemudian desa kecil tersebut berubah menjadi sebuah kota kecil, & 3 tahun kemudian berkembang menjadi sebuah kabupaten.

Pada saat itu Kaisar Yao sedang mencari orang yang bijaksana untuk menjadi pembantunya. Karena tertarik oleh kepribadian Shun, maka Kaisar Yao mengangkat Shun menjadi menantunya. Walaupun telah menjadi menantu Raja, Shun tidak melupakan ayahanda & ibu tirinya. Shun tidak mendendam kepada mereka, walaupun dulu mereka memperlakukan Shun amat keterlaluan. Bakti Shun terhadap orangtua tetap tidak berubah, meskipun sekarang ia hidup berkecukupan.

Karena iri hati melihat kehidupan Shun, adik tiri & ibu tirinya berkali-kali berusaha membunuh Shun, tetapi usaha mereka gagal. Tiap kali pula Shun memaafkan mereka, & sama sekali tidak menaruh dendam. Karena pribadi yang luhur inilah akhirnya Kaisar Yao mewariskan tahtanya & mengangkat Shun sebagai Kaisar yang baru. Setelah naik tahtapun, Kaisar Shun tidak lupa mengunjungi kedua orangtuanya seperti sedia kala.

Pada masa pemerintahan Kaisar Shun [ 2225 SM – 2208 SM ], beliau bekerja keras untuk menyejahterakan rakyatnya. Kaisar Shun amat mencintai kesenian. Beliau banyak menciptakan alat musik, a.l. : Sheng (alat musik Tionghoa yang terdiri dari 13 batang pipa bambu yang panjang & pendeknya tidak sama), kecapi yang mempunyai 23 senar, & alat musik halus lainnya. Musik gubahannya disebut Xiao Shao. Konon jika konser Xiao Shao ini dimainkan, mendengar suara merdu ini sampai-sampai burung Feng Huang {Hong Hong} datang di atasnya & menari-nari.

Pada waktu Nabi Khong Hu Cu mendengar musik ini, tiada henti-hentinya memuji & berkata bahwa gubahan irama Xiao Shao amat indah & arif. Jika dibandingkan dengan irama Wu (gubahan Zhou Wu Wang dari Dinasti Zhou), walaupun indah tetapi masih kurang arif. Xiao Shao lebih membuat orang terharu. Jika dalam keadaan sendiri, Kaisar Shun gemar memetik kecapi bersenar 5, sambil mendendangkan lagu gubahannya yang disebut Nan Feng (Angin Selatan).

Pada masa pemerintahan Kaisar Shun terjadi bencana banjir yang dahsyat. Banyak rakyat yang tewas & kehilangan tempat tinggal. Kaisar Shun amat sedih memikirkan penderitaan rakyatnya.

Akhirnya muncullah Yu, seorang gagah berani yang berhasil menanggulangi banjir besar itu. Kaisar Shun sangat kagum akan kemampuan Yu mengorganisir pekerjaan raksasa itu. Yu berada pada posisi terdepan dalam memimpin rakyat 9 propinsi yang terkena musibah. Dengan membawa sekop berujung garpu ia menerjang badai & hujan, dengan gagah berani ia membuat saluran & mengeruk dasar sungai, sampai akhirnya banjir itu surut. Selama 13 (tiga belas) tahun ia berjuang keras mengatasi banjir, 3 X ia melewati depan rumahnya tanpa mampir ataupun menengok, karena khawatir menelantarkan tugasnya.

Atas pengorbanan Yu yang besar kepada rakyat ini, Kaisar Shun lalu mewariskan tahta kepadanya. Yu adalah lambang kebijaksanaan & pengorbanan tanpa mengingat kepentingan pribadi.

Kaisar Yu memerintah tahun 2205 SM – 2198 SM. Kaisar Yu mendirikan Dinasti Xia, yang merupakan Dinasti pertama di Tiongkok.

Kaisar Yao, Shun & Yu ini menjadi contoh ideal Kong Zi {Khong Hu Cu}, Meng Zi {Beng Cu}, dan para ahli filsafat lainnya dalam mengajar kepada murid-muridnya, dan juga sering digunakan oleh para ahli filsafat tersebut untuk memberi teladan bagi kaisar-kaisar yang bertahta kemudian.

Oleh rakyat, Kaisar Yao, Shun & Yu dipuja sebagai Tian Guan, Ti Guan dan Shui Guan. Mereka bertiga disebut San Yuan Gong dan kelentengnya banyak tersebar di mana-mana. Mereka dipuja sebagai Dewa yang mengawasi perbuatan baik buruk manusia dan Dewa pelindung kehidupan.




Ketiga, sebutan 三官 San Guan {Hok Kian = Sam Kwan}. Sebutan ini ditinjau dari pangkatnya, yaitu: Tian Guan, Di Guan, Shui Guan, yang merupakan pemberi berkah, pengampunan dosa & pelindung dari bencana & malapetaka.




Keempat, terkenal dengan sebutan 三官大帝 San Goan Da Di {Hok Kian = Sam Kwan Tai Te}. Gelar ini diberikan oleh Maha Dewa 元始天尊 Yuan Shi Tian Zun.


Tian Guan diberi gelar Zi Wei Da Di {Hok Kian = Ci Wi Tai Te}.

Di Guan diberi gelar Qing Xu Da Di {Hok Kian = Ching Hi Tai Te}

Shui Guan diberi gelar Dong Xu Da Di {Hok Kian = Thong Hi Tai Te}

Ketiga Da Di ini secara bersama-sama disebut San Guan Da Di.



Arca-arca San Guan Da Di banyak terdapat di dalam kelenteng, baik di daratan Tiongkok maupun di Hongkong. Di Taiwan terutama di Tai Nan ada 3 kelenteng yang khusus menghormati San Guan Da Di, yaitu San Guan Tang, San Jie Tang & San Guan Da Di Miao. Di Jawa penghormatan kepada San Guan Da Di, selain di kelenteng Kim Tek Ie, Jakarta juga terdapat di kelenteng Tiauw Kak Si, Cirebon, & kelenteng Tay Kak Si, Semarang.

# 36 - Reply : 04.Aug.2009 21:46



Aladin
[VM]
Jakarta

Total post : 216

Setiap tanggal 9 bulan 1 Imlek orang Tionghoa terutama orang Hok Kian, melakukan upacara sembahyang 敬天公 Jing Tian Gong {Hok Kian = King Thi Kong}, yang berarti sembahyang kepada Tuhan YME. Di kalangan orang Tionghoa di Indonesia, sembahyang ini dikenal dengan sebutan Sembahyang Tuhan Allah yang dilakukan dengan penuh kekhidmatan. Upacara sembahyang ini termasuk salah satu rangkaian upacara pada pesta menyambut Tahun Baru Imlek / Musim Semi yang berlangsung selama 15 hari; dari tanggal 1 s/d 15 bulan 1 penanggalan Imlek.

Di Propinsi 福建 Fu Jian {Hok Kian} & 臺灣 Taiwan muncul istilah yang sangat populer, yaitu 初九天公聖 Chu Jiu Tian Gong Sheng , yang berarti bahwa pada Cia Gwe Cwe Kao (Tanggal 9 bulan pertama Imlek) adalah Hari Ulang Tahun Thi Kong. Sehingga masyarakat di propinsi Hok Kian & Taiwan mengadakan sembahyang khusus untuk menghormati Thi Kong (Tuhan YME). Upacara King Thi Kong ini juga telah menyebar di negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Seperti kita ketahui istilah 上帝 Shang Di (Tuhan YME) di kalangan 善男信女 penganut agama Tionghoa (Buddha, Taoisme, & Khong Hu Cu) disebut 天 Tian {Thian}, yang kemudian secara lebih akrab disebut 天公 Tian Gong {Hok Kian =Thi Kong}. Sembahyang kepada Thi Kong ini telah meluas sampai ke golongan masyarakat yang paling bawah, seperti petani, pedagang dan lain-lain.

Pada tanggal 9 bulan pertama Imlek ini, upacara sembahyang King Thi Kong dilakukan mulai dari kalangan atas sampai orang-orang miskin sekalipun. Penduduk yang miskin cukup menempatkan sebuah Hiolo (pedupaan = tempat menancapkan dupa) kecil yang digantungkan di depan pintu rumahnya dan menyalakan hio (dupa) dari pagi sampai tengah malam secara kontinue.

Bagi orang berada, acara sembahyang ini merupakan hal yang paling megah & khidmat. Sebuah meja besar dengan keempat kakinya diletakkan di atas 2 buah bangku panjang. Lalu di atas meja tersebut diatur 3 buah 神位 Shen Wei (Tempat Dewa) yang terbuat dari kertas warna-warni yang saling dilekatkan. Kemudian di depan Shen Wei dijajarkan 3 buah cawan kecil yang berisi teh, & 3 buah mangkuk yang berisi misoa yang diikat dengan kertas merah. Setelah itu 五果六菜 Wu Guo Liu Cai {Hok Kian = Go Ko Lak Chai} diatur di bagian depan. Wu Guo Liu Cai berarti 5 macam buah-buahan & 6 macam masakan vegetarian, ini menjadi dasar utama dalam penataan barang sajian upacara sembahyang orang Tionghoa. Di bagian paling depan (sebelah kiri & kanan) dipasang lilin 1 pasang (= 2 batang).

Sehari sebelum upacara sembahyang (Cia Gwe Cwe Pe = Tanggal 8 bulan 1 Imlek) dimulai, seluruh penghuni rumah melakukan mandi keramas & ganti baju. Sembahyang dilakukan tepat pukul 12 tengah malam, dimulai dengan onggota keluarga yang paling tua dalam urutan generasinya. Semua melakukan 三跪九叩 San Gui Jiu Kou {Hok Kian = Sam Kwi Kiu Kho} yaitu 3 X berlutut & 9 X menyentuhkan kepala ke tanah. Setelah selesai baru kemudian kertas emas yang dibuat khusus lalu dibakar bersama dengan Shen Wei yang terbuat dari kertas warna-warni. Kemudian dinyalakan petasan untuk mengantar kepergian para malaikat pengiring. Upacara sembahyang King Thi Kong ini di kalangan Hoa Qiao Indonesia dikenal dengan sebutan “Sembahyang Tuhan Allah”.

Tidak jelas kapan masyarakat propinsi Hok Kian & Taiwan memulai King Thi Kong ini. Sebuah sumber mengatakan bahwa King Thi Kong baru mulai diadakan pada masa awal Dinasti Qing [1644 - 1911]. Seperti diketahui bahwa Hok Kian merupakan basis terakhir perlawanan sisa-sisa pasukan yang masih setia kepada Dinasti Ming [1368 – 1644]. Pada waktu pasukan Qing (Man Zhu) memasuki Hok Kian, mereka berhadapan dengan perlawanan gigih dari rakyat setempat & sisa-sisa pasukan Ming. Setelah perlawanan ditaklukkan dengan penuh kekejaman, akhirnya seluruh propinsi Hok Kian dapat dikuasai oleh pihak Qing.

Selama terjadinya peperangan & kekacauan ini, banyak rakyat yang bersembunyi di dalam perkebunan tebu yang banyak tumbuh di sana. Di dalam rumpun tebu itulah mereka melewati malam & hari Tahun Baru Imlek. Setelah keadaan aman, pada Cia Gwe Cwe Kaw (Tanggal 9 bulan 1 Imlek) pagi mereka berbondong-bondong keluar & kembali ke rumah masing-masing. Untuk menyatakan rasa syukur karena terhindar dari bencana maut akibat perang, mereka lalu mengadakan upacara sembahyang King Thi Kong pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini sebagai ucapan rasa terima kasih kepada Thi Kong atas lindungan-Nya. Oleh karena ini, maka sebagian besar orang Hok Kian mengatakan bahwa Cia Gwe Cwe Kaw adalah Tahun Baru-nya orang Hok Kian, sedikitpun tidak salah.

Selain upacara King Thi Kong, pada tanggal 9 bulan 1 Imlek ini bertepatan pula dengan Hari Kelahiran Maha Dewa 玉皇上帝 Yu Huang Shang Di {Hok Kian = Giok Hong Siong Tee = Maha Dewa Kumala Raja}, yaitu Dewata Tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain. Karena 2 hal yang bertepatan inilah maka orang Tionghoa menganggap Giok Hong Siong Tee sebagai penitisan dari 天 Tian (Tuhan YME). Cap It Gwe Cwe Lak (tanggal 6 bulan 11 Imlek) adalah Hari Giok Hong Siong Tee mencapai kesempurnaan.

Dari cerita di atas, jelaslah bahwa orang Tionghoa percaya kepada Tuhan YME (God the Almighty) yang disebutkan sebagai Tian atau Tian Gong {Thi Kong}, hanya saja konsepsinya berbeda dengan agama lain. Bagi umat Tionghoa, Tuhan memiliki pembantu-pembantu yang terdiri dari berbagai dewa yang mempunyai jabatan & wilayah tertentu, & berkewajiban melakukan pengawasan terhadap perbuatan manusia dalam lingkungan kekuasaan & wilayah masing-masing.

Jadi jika ada orang Tionghoa yang bersembahyang di kelenteng, ini BUKAN karena mereka percaya TAHAYUL, melainkan karena mereka hendak menghadap kepada salah satu di antara sekian banyak pembantu Tuhan (yaitu : dewa/i) di dunia ini untuk keperluan tertentu (misalnya: pekerjaan, bisnis, karir, jodoh, dsb), atau sekedar mencurahkan isi hatinya (curhat).

# 37 - Reply : 05.Aug.2009 20:07



Santana Perwira
[VM]
Jakarta

Total post : 641

-
-
luar biasa, LUAR biasa, LUAR BIASA

bagaimana dengan dewa Ki Ong Ya ? dewa yang dirayakan setiap 5cap6



# 38 - Reply : 06.Aug.2009 18:14



Santana Perwira
[VM]
Jakarta

Total post : 641


ini dewa di kelenteng si-kak-pa

dewa

ada yg bisa bantu menjelaskan nama dewa tsb?

# 39 - Reply : 06.Aug.2009 22:43



rudydarwin
[VM]
Jakarta

Total post : 1103

quote komentar : TEK LIE - Tgl : 04.Aug.2009 05:01
Da Bo Gong / Toa Pek Kong

Nama Dewata ini hanya dikenal di wilayah Malaya dan Indonesia. Ia merupakan dewa air yang dipuja sejak zaman dinasti Song oleh para pelaut demi kemanana pelayaran.

Namun, istilah Toa Pe Kong di Indonesia sebenarnya merujuk pada SEMUA dewa-dewi Tao.
Last edited by kris; 05-20-2006 at 08:58


Agak mencengangkan..
Pertama, kok bisa dikaitkan ke Dewa Air. Mungkin karena itu makanya disembah di daerah yg dekat laut kali ya... Dulu liat di Melaka juga banyak yg menyembah Toa Pe Kong.

Trus kalimat kedua, merujuk ke semua dewa-dewi Tao, maksudnya apa ya? Keindahan dari Dewa-dewi ini karena gabungan dari Tri Darma menjadi satu keyakinan unik di kalangan masyarakat Tionghoa itu sendiri. Suatu kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Malah beberapa nama Dewa yang disebutkan di sini belum pernah saya dengar.

# 40 - Reply : 07.Aug.2009 08:47



Aladin
[VM]
Jakarta

Total post : 216

YIN SHEN JIE FU - Sembahyang Tahun Baru Imlek
Oleh: Flyming Lika

Biasanya satu minggu sebelum tanggal satu bulan satu Imlek, yang sudah berumah tangga, semua anggota keluarga membersihkan rumah secara keseluruhan.Semua Hu yang sudah berubah warna (agak keputihan) dilepas dan diganti dengan baru, Hu yang lama dibakar. Meja sembahyangan dibersihkan, patung-patung Dewa Dewi diturunkan, dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air bunga agar bersih dan wangi. meja sembahyangan dan patung-patung ditata kembali dengan rapi dan siap menyambut tahun baru.

Persiapan apa saja yang dibutuhkan:
Satu atau dua hari sebelum hari H tiba, yaitu tanggal satu bulan satu tahun baru Imlek. Buah-buahan dengan jumlah masing-masing lima buah, lima jenis (apel, jeruk, pear, anggur, jeruk besar, dll) dan rangkap dua, artinya untuk meja sembahyangan Thian Kung satu set dan untuk meja sembahyangan yang didalam rumah satu set. Hindari memilih jenis buah yang berduri (salak, nanas, dan lainnya).

Meja sembahyangan Tian Gong [Thian Kung] disiapkan. Kemudian Hio besar sesuai kebutuhan, minimum dua batang. Hio kecil secukupnya tergantung anggota keluarga yang ingin sembahyang, masing-masing anggota 12 batang Hio pada tiap meja sembahyang.

Lilin yang pantas 2 batang tiap meja (jangan terlalu tinggi dan besar) sebagai penerangan.

Bunga segar untuk meja bila mampu, sebagai pewangi.

Xiang Lu [Hio Lo / tempat Hio] untuk meja Tian Gong. Bila tidak ada yang permanen, dapat dibuat dari kaleng susu besar, dibungkus dengan kertas merah dan diisi beras.

Cangkir kecil (Jiu Jing), tempat teh sebanyak 5 buah untuk masing-masing meja sembahyang. Juga teh jangan lupa.

Permen satu piring kecil sebagai pemanis untuk masing-masing meja sembahyang.

Minyak wangi disemprotkan ke tangan anggota keluarga saat sebelum sembahyang.

Kain merah sebagai taplak meja Tian Gong.

Demi keselamatan lebih baik diatas taplak meja tadi diberi alas kaca, sebelum buah, lilin, Xiang Lu [Hio Lo] dan lainnya disusun.

Penyusunan / Persiapan Sembahyang:
Letakkan meja Tian Gong menghadap Timur dengan langit-langit terbuka.

Pasang taplak meja merah, letakkan kaca diatasnya. Susun Xiang Lu [Hio Lo], cangkir teh setengah lingkaran, lilin disamping kanan kiri, buah-buahan melingkar setengah lingkaran juga, bunga dibelakang kanan kiri meja. Permen di sebelah kanan depan meja.
Demikian pula dengan susunan yang sama untuk meja sembahyang yang ada di dalam rumah.

Saat Sembahyang:
Waktu sembahyang pada tanggal satu bulan satu tahun baru Imlek, jam 00:30 sampai 06:00 adalah yang paling baik.

Pakailah pakaian yang rapi. Susunlah permohonan permintaan untuk satu Tahun Baru ini, agar tidak ada yang tertinggal.

Kepala keluarga memimpin sembahyang dengan Xiang [Hio] besar satu di hadapan Tian Gong, kemudian diikuti dengan 12 Xiang [Hio] kecil. Sembah sujud seperti biasa sembahyangan kita, permohonan-permohonan diutarakan.

Setelah selesai diikuti dengan anggota keluarga yang lain, mulai dari pangkat yang tertinggi menurun. Kepala keluarga melanjutkan sembahyang yang sama di meja sembahyangan dalam rumah dengan pola yang sama.

Setelah semuanya selesai, tunggu sebentar, sekitar 30 menit. Bila situasi lingkungan tidak mengijinkan, maka meja sembahyangan Tian Gong boleh diberesin / diangkat semua persembahan yang ada, tinggalkan Xiang [Hio] nya saja. Bila situasi mengijinkan maka dapat dibiarkan sampai pagi, sampai lilin dan Xiang [Hio] terbakar habis.

Nah selesai sudah Sembahyangan Yin Shen Jie Fu kali ini.

Kemudian pagi harinya dilanjutkan dengan adat keluarga masing-masing, seperti berkunjung kerumah orang tua, orang yang dituakan, dll.


Halaman :  1  2  3  [4]  5  6 

 



BON is providing basic human rights such as freedom of speech. By using BON, you agree to the following conditions :
 - Use this site at your own risk and it is not the risk of the owner or the webhost
 - If you do not agree to these terms, please do not use this service or you will face consequences
USING THIS SITE INDICATES THAT YOU HAVE READ AND ACCEPT OUR TERMS.
IF YOU DO NOT ACCEPT THESE TERMS, YOU ARE NOT AUTHORIZED TO USE THIS SITE